YouTube Perkuat Ekonomi Kreator, Konten Jadi Penggerak Bisnis

YouTube bisnis digital

(Ki-ka) Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia; Andrew Lee, Director, Customer Strategy & Applied Design, Deloitte Digital and Official Program Partner for YouTube Works Awards Southeast Asia 2026. (Foto: istimewa/youtube)

youngster.id - YouTube terus memperkuat peran kreator dalam ekosistem digital Indonesia, tidak hanya sebagai pembuat konten hiburan, tetapi juga sebagai penghubung antara audiens dan brand. Melalui YouTube Festival Indonesia 2026, Google menyoroti perkembangan platform video tersebut dalam membentuk budaya, membangun koneksi, hingga mendorong perdagangan digital.

Berdasarkan studi Google dan Kantar pada April 2026, sebanyak 95% penonton di Indonesia menyatakan YouTube sebagai platform yang paling mereka percaya, mengungguli sejumlah platform video lainnya. YouTube juga menjangkau hampir 90% populasi online di Indonesia melalui berbagai perangkat, termasuk ponsel dan televisi.

Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, mengatakan kepercayaan audiens terhadap kreator menjadi salah satu kekuatan YouTube dalam menghubungkan konten dengan pertumbuhan bisnis.

“Kita sedang berada di era YouTube, menjangkau hampir 90% populasi online di Indonesia melalui berbagai layar, baik perangkat pribadi maupun TV di ruang keluarga. Ketika platform lain berlomba mengejar klik dalam feed yang hanya bertahan 24 jam, masyarakat Indonesia mengakses YouTube karena mereka melihat para kreator sebagai sumber informasi yang tepercaya,” ujar Veronica dikutip Senin (12/10/2026)

Menurutnya, kombinasi storytelling kreator dan teknologi Google AI memungkinkan YouTube mendukung perjalanan konsumen secara menyeluruh, mulai dari membangun kesadaran terhadap brand hingga mendorong penjualan.

Selain itu, dalam gelar YouTube Festival Indonesia 2026 Veronica mengumumkan peluncuran Shorts Series di Indonesia. Fitur ini memungkinkan kreator menyusun video vertikal YouTube Shorts menjadi rangkaian tayangan yang berurutan.

“Format tersebut membuka peluang bagi kreator untuk mengembangkan cerita episodik yang membuat audiens mengikuti konten dari satu bagian ke bagian berikutnya. Bagi brand, Shorts Series juga menghadirkan cara baru untuk mengintegrasikan produk ke dalam cerita secara lebih organik,” ungkapnya.

Perkembangan ini sejalan dengan semakin beragamnya konten di YouTube. Mulai dari siaran langsung olahraga yang mempertemukan lebih dari 4,5 juta penonton secara bersamaan dalam livestream pertandingan Indonesia versus Thailand di FIFA ASEAN Cup 2026 melalui kanal RANS Entertainment, hingga peningkatan 41% jumlah penonton internasional untuk konten Isyana Sarasvati.

Konten serial micro-drama juga menjadi salah satu format yang berkembang, menunjukkan bagaimana kreator dapat mengeksplorasi pendekatan storytelling untuk menjangkau komunitas dengan minat berbeda.

Open Call, Permudah Kolaborasi

Selain format konten, Google memperkenalkan pengembangan YouTube Creator Partnerships untuk mempermudah kolaborasi antara brand dan kreator. Indonesia menjadi salah satu pasar pertama di dunia yang menguji coba fitur Open Call.

Melalui fitur tersebut, brand dapat membagikan brief kampanye melalui YouTube Studio dan menerima ide storytelling dari kreator. “Pendekatan ini memberi kesempatan bagi brand untuk menemukan konsep yang sesuai dengan karakter audiens sekaligus membuka ruang kolaborasi kreatif,” ujarnya.

Brand juga dapat memperluas jangkauan konten melalui Creator Partnerships Boost (CPB), sebelumnya dikenal sebagai Partnership Ads. Fitur ini memungkinkan video organik kreator digunakan sebagai iklan berbayar dengan dukungan Google AI.

Potensi konten jangka panjang turut menjadi keunggulan YouTube. Data internal YouTube secara global menunjukkan bahwa 40% total penayangan sebuah video diperoleh setelah satu bulan sejak konten tersebut dipublikasikan. Artinya, konten kreator berpeluang terus ditemukan audiens dan memberikan nilai bagi brand dalam periode yang lebih panjang.

Peran kreator di YouTube juga semakin dekat dengan aktivitas belanja. Dalam studi Google dan Kantar pada 2026, sebanyak 90% penonton menyatakan YouTube membantu mereka lebih yakin dalam mengambil keputusan pembelian.

Untuk mendukung perjalanan tersebut, Google mengembangkan Commerce Media Network (CMN), yang memungkinkan audiens mengakses halaman checkout marketplace setelah melihat iklan YouTube melalui perangkat seluler maupun Connected TV (CTV).

Brand dan marketplace juga dapat memanfaatkan data belanja secara real-time, seperti produk yang sedang dicari atau ditambahkan ke keranjang, untuk menyajikan iklan yang lebih relevan kepada audiens.

Veronica mengungkapkan bahwa ROI YouTube di Indonesia tercatat 1,44 kali lebih tinggi dibandingkan paid social dan 1,51 kali lebih tinggi dibandingkan televisi linear.

Ekosistem belanja berbasis kreator turut berkembang melalui YouTube Shopping Affiliate yang telah bekerja sama dengan empat mitra di Indonesia, yaitu Shopee, Blibli, Lazada, dan Zalora. Kreator lokal juga telah menambahkan tag produk ke lebih dari 11 juta video di YouTube.

Melalui pengembangan format konten, kolaborasi kreator, dan integrasi perdagangan digital, YouTube berupaya memperkuat posisinya dalam ekosistem pemasaran Indonesia. Perkembangan ini sekaligus menunjukkan semakin eratnya hubungan antara creator economy, kepercayaan konsumen, dan peluang pertumbuhan bisnis digital.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version