youngster.id - Platform infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berfokus Indonesia, Zankore, mengamankan fasilitas pinjaman berjangka senior (senior term loan facility) senilai hingga US$3,1 miliar (sekitar Rp50 triliun). Pembiayaan ini bakal digunakan untuk mendanai pembangunan dan penggelapan infrastruktur graphics processing unit (GPU) Nvidia tahap pertama berkapasitas 100 megawatt (MW) di Indonesia.
Zankore didirikan melalui kolaborasi strategis antara Ooredoo Group, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Nvidia, dan Nokia pada 6 Agustus 2026. Proyek ini digadang-gadang sebagai salah satu pembiayaan infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Pembangunan kapasitas awal sebesar 100 MW ini ditujukan untuk mendukung layanan cloud AI bagi perusahaan AI-native, korporasi, startup, pengembang (developer), hingga lembaga pemerintah di Indonesia dan Asia Tenggara. Proyek ini menjadi fondasi awal dari target jangka panjang Zankore untuk mengembangkan Nvidia DSX AI Factory hingga 1 gigawatt (GW), dengan target kapasitas 200 MW pada paruh pertama tahun 2027.
Director and Chairman Zankore, Vikram Sinha, menegaskan pentingnya ketersediaan infrastruktur lokal agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi AI.
“AI memberikan peluang yang mendefinisikan masa depan bagi Indonesia dan Asia Tenggara. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan menggunakan AI, melainkan apakah kita membangun infrastruktur yang memungkinkan kita berpartisipasi aktif menciptakan masa depan tersebut,” ujar Vikram, dikutip Kamis (10/9/2026).
Fasilitas pinjaman senilai US$3,1 miliar ini ditopang oleh konsorsium lembaga keuangan internasional terkemuka. Citi bertindak sebagai penasihat utang eksklusif (exclusive debt adviser).
Sementara itu, Citi, ING, Natixis CIB, Qatar National Bank (QNB) Group, dan United Overseas Bank (UOB) bertindak sebagai Senior Mandated Lead Arrangers, Underwriters, and Bookrunners (SMLAUBs). Model bisnis Zankore akan menerapkan skema bagi hasil (revenue-sharing) dan dukungan kredit (credit-support) guna menyesuaikan penggelaran infrastruktur dengan permintaan pasar secara efisien.
Tantangan Pasokan Listrik hingga Regulasi Ekspor
Meskipun potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia sangat besar, pengembangan infrastruktur AI berskala masif menghadapi sejumlah kendala teknis dan regulasi. Pemrosesan workload AI melalui GPU membutuhkan pasokan energi listrik yang sangat tinggi serta sistem pendinginan (thermal management) yang canggih.
Di sisi lain, ekspansi Zankore juga dipengaruhi oleh regulasi hukum ekspor Amerika Serikat terkait produk pemrosesan tingkat tinggi Nvidia, serta ketentuan lokal Indonesia mengenai tata kelola data dan lokalisasi data strategis. Kendati demikian, jika proyek ini terealisasi sesuai rencana, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat ekosistem dan komputasi AI terbesar di Asia Tenggara. (*AMBS)


















Discussion about this post