youngster.id - Pengembangan energi terbarukan di Indonesia terus menarik perhatian pelaku industri. Salah satunya PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang kini memperluas portofolio pembangkit listriknya dari energi air ke energi surya. Langkah tersebut dilakukan melalui akuisisi 99,9% saham PT Endorshine Energy Solutions, perusahaan pemilik dan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau.
“Akuisisi Endorshine mencerminkan komitmen kami untuk terus bertumbuh dengan tetap terbuka terhadap berbagai peluang pengembangan, baik secara organik maupun melalui langkah-langkah strategis secara anorganik,” ujar Aldo Artoko Presiden Direktur Arkora Hydro dikutip Rabu (26/8/2026).
Menurut Aldo, pertumbuhan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan perluasan skala operasional, tetapi juga bagaimana setiap langkah dapat menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
“Akuisisi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Arkora memperluas kontribusi dalam penyediaan energi bersih dan mendukung percepatan transisi energi nasional,” ujarnya.
Ini merupakan langkah pertama Arkora memiliki proyek PLTS. Endorshine kini beroperasi di bawah PT Arkora Tenaga Matahari (ATM), anak usaha Arkora yang dibentuk sebagai kendaraan akuisisi untuk mengembangkan portofolio energi surya.
Melalui akuisisi tersebut, Arkora mengoperasikan dua PLTS dengan total kapasitas 21,3 MWp. PLTS Bintan memiliki kapasitas 10,27 MWp, sementara PLTS Batam mencapai 11,05 MWp.
Masuknya energi surya membuat portofolio energi terbarukan Arkora menjadi lebih beragam. Sebelumnya, perusahaan memiliki enam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan total kapasitas 62,8 MW.
Dengan tambahan dua PLTS tersebut, Arkora kini memiliki kapasitas terkontrak sebesar 84,1 MW yang berasal dari pembangkit energi air dan energi surya. Perusahaan juga menyebut total kapasitas dalam pipeline telah mencapai lebih dari 300 MW.
Diversifikasi ini tidak hanya memperluas jenis energi terbarukan yang dikembangkan Arkora, tetapi juga memperluas persebaran lokasi pembangkit perusahaan di Indonesia.
Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya perusahaan meningkatkan kontribusi terhadap pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Arkora mencatat telah menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 277.241 ton CO₂eq sepanjang 2017 hingga 2025.
Dengan masuknya PLTS Batam dan Bintan, Arkora kini tidak hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga air, tetapi mulai mengembangkan kombinasi sumber energi terbarukan. Langkah ini menunjukkan semakin beragamnya pendekatan industri dalam mendukung kebutuhan energi bersih di Indonesia.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post