youngster.id - Keterlibatan konsumen terhadap program loyalitas di seluruh wilayah Asia Pasifik kecuali Tiongkok (APEC) kini memasuki fase yang lebih kompleks dan matang. Laporan Loyalty Trends 2026 terbaru yang dirilis oleh Marriott Bonvoy mengungkapkan bahwa sebanyak 89% traveler di kawasan APEC telah berpartisipasi dalam setidaknya satu program loyalitas, dengan preferensi yang kian bervariasi di tiap negara.
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia menonjol sebagai pasar dengan keterlibatan loyalitas tertinggi di seluruh kawasan APEC. Tingkat partisipasi wisatawan Indonesia dalam program loyalitas menyentuh angka 96%.
Tak hanya itu, laporan Marriott Bonvoy juga mencatat bahwa 90% traveler Indonesia aktif mengumpulkan poin melalui transaksi harian mereka—menjadi metrik tertinggi di Asia Pasifik. Tren ini membuktikan bahwa program loyalitas hotel telah bergeser dari sekadar fasilitas perjalanan menjadi ekosistem nilai yang melekat erat dalam gaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia, mulai dari urusan kuliner hingga belanja ritel.
Laporan Marriott Bonvoy mengidentifikasi lima prioritas utama perjalanan di kawasan APEC, yaitu Kuliner (Food & Dining), Alam/Tamasya, Belanja, Imersi Budaya, serta Istirahat & Melepas Penat (Recharge & Disconnect). Wisata kuliner menjadi pendorong terkuat dengan 63% traveler APEC yang merencanakan perjalanan mereka demi mencicipi makanan khas daerah tujuan.
Berdasarkan motivasi dan perilaku konsumen, studi ini memetakan tiga pola pikir loyalitas yang berbeda di pasar APEC, dimulai dari Ahli Strategi Loyalitas (Loyalty Strategists) yang dominan di Jepang dan Korea Selatan, di mana konsumen di pasar ini cenderung sangat terencana, rasional, dan disiplin dalam mengumpulkan poin demi keuntungan praktis.
Selanjutnya, terdapat kelompok Pengoptimal Nilai (Value Optimizers) yang dominan di Singapura, Australia, dan Thailand, di mana konsumennya lebih memanfaatkan program loyalitas untuk fleksibilitas, efisiensi biaya, serta peningkatan kenyamanan seperti fasilitas late check-out atau room upgrade.
Terakhir, ada kelompok Pencari Pengalaman (Experience Seekers) yang menjadi karakteristik utama dari pasar berkembang dengan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia, India, dan Vietnam.
Wisatawan Indonesia menunjukkan hubungan emosional yang sangat kuat dengan brand. Sebanyak 56% konsumen di Indonesia memprioritaskan penukaran poin (redeem) untuk mendapatkan akses dan pengalaman eksklusif, jauh melampaui rata-rata regional APEC yang hanya sebesar 42%. Loyalitas bagi masyarakat Indonesia berfungsi sebagai gerbang pemenuh aspirasi, penemuan hal baru, dan momen tak terlupakan.
Secara umum di kawasan APEC, program loyalitas hotel menjadi kategori yang paling diminati dengan melibatkan hingga 66% wisatawan, mengungguli program maskapai penerbangan dan ritel. Mayoritas anggota tercatat mempertahankan keanggotaan mereka selama lebih dari dua tahun.
Perolehan poin loyalitas hotel di APEC saat ini didorong oleh beberapa aktivitas utama: Menginap langsung di properti hotel (57%), Transaksi kartu kredit co-branded (53%), Pesan-antar makanan dan aktivitas kuliner (48%), dan Belanja di mitra ritel dan e-commerce (45%).
Melihat tren adaptif ini, Chief Commercial Officer Asia Pasifik kecuali Tiongkok Marriott International, John Toomey, menegaskan bahwa strategi regional yang seragam (one-size-fits-all) tidak lagi efektif untuk mendorong pertumbuhan bisnis.
“Program loyalitas hotel harus berevolusi menjadi ekosistem adaptif yang tumbuh bersama para traveler. Di kawasan yang beragam seperti APEC, merek yang memahami perilaku lokal dan nuansa budaya secara mendalam akan melampaui skala untuk mendapatkan relevansi jangka panjang,” pungkas Toomey, dikutip Sabtu (23/5/2026).
STEVY WIDIA

















Discussion about this post