youngster.id - Organisasi di kawasan Asia Pasifik kini menghadapi tantangan ganda dalam lanskap keamanan digital. Studi terbaru yang dilakukan oleh Forrester Consulting untuk Fortinet mengungkapkan bahwa 69% organisasi menjadikan ancaman berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) sebagai kekhawatiran utama di tengah kompleksitas infrastruktur TI yang semakin meningkat.
Laporan tersebut menyoroti bahwa fragmentasi alat keamanan dan volume peringatan (alert) yang berlebihan telah membebani tim operasional. Sebanyak 46% organisasi mengaku kesulitan membedakan ancaman nyata akibat tumpukan alert, sementara 43% lainnya masih bergantung pada alur kerja manual yang lambat.
Kompleksitas internal kini dianggap sebagai pendorong utama risiko siber, bukan sekadar tantangan operasional. Untuk mengatasinya, terjadi pergeseran besar menuju konsolidasi vendor. Saat ini, baru 29% organisasi yang menggunakan platform keamanan terpadu, namun angka ini diproyeksikan melonjak hingga 60% dalam dua tahun ke depan.
Langkah konsolidasi ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan. Sekitar 90% organisasi memproyeksikan peningkatan metrik operasional sebesar 10%, termasuk waktu deteksi (MTTD) dan respons (MTTR) yang lebih cepat, serta produktivitas analis yang lebih tinggi.
Meskipun AI menjadi vektor ancaman baru, teknologi ini juga dipandang sebagai solusi pertahanan masa depan. Sebanyak 95% organisasi berencana meningkatkan anggaran AI mereka, dengan lebih dari separuhnya memperkirakan pertumbuhan investasi hingga dua digit.
“Organisasi menaruh ekspektasi besar pada AI untuk mentransformasi operasi keamanan. Namun, AI hanya dapat memberikan hasil bermakna jika dibangun di atas fondasi yang terintegrasi,” jelas Rashish Pandey, VP of Marketing and Communications APAC Fortinet.
Di Indonesia, tantangan serupa juga dirasakan oleh pelaku industri. Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menekankan bahwa fragmentasi alat membuat visibilitas menjadi terbatas. Banyak perusahaan ingin mengadopsi AI, namun belum memiliki fondasi data yang terpadu.
“Di Fortinet, kami membantu organisasi menyederhanakan arsitektur keamanan melalui pendekatan platform terpadu yang menggabungkan visibilitas, otomatisasi, dan intelijen berbasis AI,” ujar Edwin.
Laporan ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan penuh potensi AI sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur. Tanpa lingkungan yang terintegrasi, penerapan AI justru berisiko memperumit proses deteksi alih-alih menyederhanakannya.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post