Masa Depan Industri Pangan Indonesia Bertumpu pada Riset dan Inovasi

Industri Pangan Indonesia

Tim Pakar Indofood Riset Nugraha 2026 dan empat peneliti terbaik periode 2025–2026. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Industri makanan dan minuman terus menghadapi kebutuhan untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya memenuhi selera konsumen, tetapi juga menjawab tantangan ketahanan pangan. Pengembangan bahan pangan berbasis sumber daya lokal menjadi salah satu peluang untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah sekaligus memperluas pemanfaatan kekayaan pangan Indonesia.

Upaya mengembangkan inovasi tersebut membutuhkan dukungan riset dan sumber daya manusia yang mampu mengolah potensi lokal menjadi solusi berbasis ilmu pengetahuan. Di sinilah peran perguruan tinggi dan peneliti muda menjadi penting, termasuk dalam mengembangkan pangan fungsional yang memenuhi aspek keamanan, mutu, dan manfaat ilmiah.

Selama dua dekade, Indofood Riset Nugraha (IRN) konsisten mendukung penelitian mahasiswa di bidang pangan. Memasuki periode 2026–2027, program ini kembali memilih 83 mahasiswa S1 dari 595 proposal penelitian yang diterima untuk mendapatkan dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN selama satu tahun.

Program ini menjadi salah satu upaya mendorong generasi muda mengembangkan inovasi berbasis kekayaan pangan lokal untuk menjawab kebutuhan pangan di masa depan.

Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., mengatakan pengembangan pangan fungsional membutuhkan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan regulasi.

“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset berperan penting u ntuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” paparnya dalam Simposium Pangan Nasional 2026 bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” yang digelar pada Kamis (8/10/2026) di Jakarta.

Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memberikan penghargaan kepada empat peneliti terbaik Program IRN periode 2025–2026. Mereka adalah Abdul Qohar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Adinda Nur Wulandari dari Universitas Lampung, Elen Bethania Pasaribu dari Universitas Jember, dan Kemal Abdul Malik dari Institut Pertanian Bogor.

“Melalui IRN, kami ingin membangun generasi peneliti muda yang kritis, kreatif dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga hasil riset memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi solusi pangan yang bermanfaat,” kata Prof Purwitano.

Sejak diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang telah dirintis sejak 1998, IRN telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Dukungan IRN meliputi bantuan dana penelitian dan pendampingan oleh tim pakar lintas disiplin ilmu. Melalui proses seleksi, bimbingan dan penilaian hasil penelitian, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan riset, mengembangkan pola pikir kritis serta membangun jejaring dengan akademisi dan praktisi industri.

Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, mengatakan IRN merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam mendukung pengembangan ekosistem pangan dan sumber daya manusia di bidang penelitian.

“IRN ini sebenarnya konteksnya bukan komersial. Ini menjadi bagian dari tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan makanan terbesar. Kami mau menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Head of Corporate Public Relation PT Indofood Sukses Makmur Tbk Andrew Hallatu menambahkan, hasil penelitian mahasiswa tetap berpotensi menjadi inspirasi bagi industri.

“Tujuan utama program ini bukan menjadikan hasil riset sebagai produk Indofood, melainkan memberikan ruang bagi peneliti muda untuk mengembangkan kemampuan ilmiah dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Di tengah tantangan ketahanan pangan, pengembangan riset dan inovasi menjadi semakin penting. Perubahan iklim, gangguan rantai pasok, kondisi geopolitik, dan meningkatnya biaya produksi dapat memberikan tekanan terhadap sistem pangan apabila tidak diantisipasi.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version