youngster.id - Coda, perusahaan layanan perdagangan digital, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (EKRAF) Republik Indonesia. Sinergi ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperluas potensi industri game di ekosistem nasional agar mampu bersaing di kancah internasional.
Melalui kemitraan ini, EKRAF dan Coda akan berkolaborasi membekali para pengembang (developer) game lokal dengan pengetahuan, perangkat teknologi, serta kapabilitas komersial yang diperlukan. Langkah taktis ini diambil guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat inovasi kreatif dan pengembangan game yang mandiri serta berdaya saing global.
Proyeksi Pasar Fantastis dan Pergeseran Tren Pembayaran
Potensi industri game di tanah air tumbuh sangat masif. Berdasarkan data dari Niko Partners, industri game Indonesia berhasil mencatatkan pendapatan lebih dari US$1,1 miliar pada tahun 2025, dan diproyeksikan melonjak tajam hingga menyentuh angka US$1,5 miliar pada tahun 2030 mendatang.
Seiring dengan pertumbuhan pasar, perilaku konsumen dalam mengakses konten game turut mengalami pergeseran besar di Asia Tenggara. Tren ini terlihat jelas dari melonjaknya penggunaan metode pembayaran di luar aplikasi (out-of-app payments) yang kini menyumbang 38% dari total pendapatan game seluler, sebuah peningkatan drastis dibandingkan dua tahun lalu yang hanya berada di angka 21%.
Selain itu, dompet digital (e-wallet) kini telah bertransformasi menjadi metode favorit yang diadopsi oleh 55% pemain game seluler berbayar. Di sisi lain, metode carrier billing atau potong pulsa juga tetap mempertahankan eksistensinya dengan digunakan oleh hampir satu dari empat pemain di kawasan tersebut.
Melihat tren ini, Coda berkomitmen membantu developer Indonesia memanfaatkan peluang tersebut dengan menyediakan infrastruktur perdagangan dan solusi pembayaran lokal yang optimal untuk menjangkau pasar domestik maupun mancanegara.
Komitmen Nyata untuk Arsitek Kreatif Kelas Dunia
Kolaborasi ini memperluas portofolio kemitraan yang telah berjalan sebelumnya, seperti peningkatan kapabilitas lebih dari 70 developer lokal lewat Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta, perluasan pasar internasional produk lokal melalui Codashop, hingga kampanye literasi digital “Guard Your Game” untuk mengantisipasi penipuan online.
CEO Coda, Shane Happach, menyatakan kebanggaannya dapat mendukung penuh ekonomi kreatif Indonesia, mengingat Coda pertama kali didirikan di tanah air sebelum kini berpusat di Singapura.
“Indonesia adalah rumah bagi komunitas pengembang game yang dinamis dan tumbuh cepat. Melalui kemitraan dengan EKRAF, kami ingin membantu lebih banyak pengembang dalam menavigasi perjalanan bisnis mereka, membangun studio yang berkelanjutan, dan menjangkau pemain di seluruh dunia,” ujar Shane, Jum’at (26/6/2026).
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam mengawal ekosistem digital nasional.
“Bagi setiap pengembang game di sini, Indonesia bukan sekadar negara dengan basis pemain yang besar atau target pasar yang menjanjikan. Melalui penguatan ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa kita tidak hanya mampu memenangkan kejuaraan dunia sebagai pemain, tetapi juga mampu menguasai pasar global sebagai kreator berkelas dunia,” pungkas Irene.
Indonesia Jadi Pilar Penting Bisnis Global Coda
Hingga kini, Coda telah beroperasi di lebih dari 80 pasar dunia dengan dukungan 400 metode pembayaran melalui solusi andalannya seperti Coda Webstore, Codapay, hingga Codashop.
Indonesia terus memegang peranan krusial bagi lini bisnis Coda dengan menyumbang sekitar 22% dari total pendapatan global perusahaan. Sepanjang periode Mei 2025 hingga Maret 2026, platform Codashop Indonesia sukses menarik rata-rata lebih dari 13 juta kunjungan bulanan dan melayani lebih dari 1 juta pembeli aktif setiap bulannya.
STEVY WIDIA
