youngster.id - Perusahaan venture capital, East Ventures, bersama Katadata Insight Center meluncurkan laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026. Mengusung tema “Penguatan Pembangunan Nasional Melalui Pemberdayaan Teknologi Digital”, laporan tahun keenam ini menekankan pentingnya menerjemahkan kesiapan digital menjadi dampak sosioekonomi yang nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Laporan EV-DCI 2026 mencatat pertumbuhan transformasi digital yang stabil dan progresif di Tanah Air. Rata-rata skor provinsi di Indonesia dilaporkan meningkat lebih dari 50% sejak tahun 2020. Secara angka, skor indeks nasional melesat dari 38,8 pada tahun 2025 menjadi 42,2 pada tahun 2026, melanjutkan tren positif dari tahun-tahun sebelumnya, yakni 35,2 (2022), 37,8 (2023), dan 38,1 (2024).
Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, menjelaskan bahwa infrastruktur digital yang kian terdistribusi harus diubah menjadi dividen digital yang nyata.
“Dengan mengintegrasikan kapabilitas ini ke dalam program nasional, kita dapat mengeksekusi program-program nasional dengan perencanaan dan proses yang lebih lancar, memantau secara real time, serta melakukan iterasi dengan cepat untuk beradaptasi terhadap isu-isu yang muncul dari lapangan,” ungkap Willson, Rabu (24/6/2026).
10 Provinsi Teratas dan Masalah Kesenjangan Digital
EV-DCI 2026 menyajikan data komparatif daya saing digital dari 38 provinsi serta 157 kota/kabupaten di Indonesia. Sebanyak 37 dari 38 provinsi mencatat perbaikan skor, di mana peringkat 10 besar masih didominasi oleh wilayah di Pulau Jawa. DKI Jakarta dan Jawa Barat secara konsisten mempertahankan posisi pertama dan kedua selama enam tahun berturut-turut.
Berikut adalah daftar 10 provinsi dengan daya saing digital tertinggi di Indonesia pada tahun 2026:
1. DKI Jakarta
2. Jawa Barat
3. Jawa Timur
4. Banten
5. DI Yogyakarta
6. Kalimantan Timur
7. Bali
8. Jawa Tengah
9. Kepulauan Riau
10. Sulawesi Selatan
Di sisi lain, Papua Barat Daya keluar sebagai wilayah dengan lonjakan peringkat terbesar setelah berhasil naik 15 posisi. Pertumbuhan impresif ini didorong oleh penguatan pilar infrastruktur, terutama berkat peningkatan Rasio Desa yang Mendapat Sinyal 4G, serta geliat kewirausahaan digital lokal.
Meskipun mayoritas daerah menunjukkan grafik kenaikan, laporan ini menggarisbawahi bahwa kesenjangan digital di Indonesia belum menyempit secara signifikan. Selisih poin antara DKI Jakarta di posisi teratas dengan provinsi di peringkat terbawah masih menyentuh angka hampir 60 poin, menandakan sebuah daerah bisa dua kali lebih siap secara digital dibandingkan wilayah lainnya.
Laporan EV-DCI 2026 juga mengungkap adanya pergeseran kebutuhan di pasar tenaga kerja digital. Seiring dengan kemajuan pesat Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI), laju perkembangan talenta digital konvensional dilaporkan mulai melandai. Permintaan industri kini bergeser dari sekadar literasi digital dasar menuju kompetensi lanjut, terutama kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis dan layanan publik.
Guna menjaga kestabilan dan mempercepat pemerataan daya saing, EV-DCI 2026 merekomendasikan empat prioritas utama yang harus ditempuh Indonesia. Langkah pertama adalah mendorong kolaborasi lintas sektor dengan memperkuat kerja sama antara pemerintah, swasta, startup, akademisi, dan komunitas untuk merancang solusi digital yang terukur.
Selanjutnya, diperlukan perluasan konektivitas digital melalui investasi infrastruktur yang tepat sasaran demi memperbaiki kualitas dan keterjangkauan harga internet di daerah terpencil. Prioritas ketiga berfokus pada digitalisasi UMKM dengan memanfaatkan rekam jejak transaksi digital sebagai basis penilaian kelayakan usaha untuk mendorong inklusi ekonomi lokal.
Terakhir, dilakukan peningkatan kapabilitas talenta dengan mengakselerasi pelatihan keterampilan mutakhir dan kompetensi AI guna menyelaraskan kapasitas SDM lokal dengan pertumbuhan infrastruktur global.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post