youngster.id - Sektor kewirausahaan dinilai menjadi mekanisme paling kuat dan adaptif dalam menciptakan lapangan kerja berkelanjutan di tengah masifnya disrupsi kecerdasan buatan (AI). Gagasan tersebut ditegaskan oleh Pendiri sekaligus Executive Chairman QI Group, Dato’ Sri Vijay Eswaran, dalam sesi panel “The Next Billion Jobs” pada Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) New Champions 2026 di Dalian, Cina.
Diskusi tingkat tinggi ini merespons proyeksi krusial Bank Dunia yang menyebutkan bahwa 1,2 miliar pekerja baru di negara berkembang akan memperebutkan hanya sekitar 400 juta lowongan kerja dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Menghadapi tantangan tersebut, upaya memajukan ekosistem wirausaha dianggap sebagai solusi ketenagakerjaan yang paling inklusif.
Menurut Eswaran, kendati teknologi mampu mengerek produktivitas, penciptaan lapangan kerja yang langgeng pada akhirnya bergantung pada individu yang jeli melihat peluang dan membangun usaha di komunitas mereka. Ia menyoroti fenomena ini telah tumbuh subur di kawasan Asia Tenggara.
“Saya selalu meyakini bahwa UMKM, wirausahawan, dan pelaku usaha kecil justru akan menjadi penggerak utama perubahan ini, bukan para pemain besar (korporasi). Di seluruh Asia Tenggara, terutama di pasar seperti Vietnam, Malaysia, dan Singapura, kita sudah melihat hal ini terjadi,” ungkap Eswaran, dikutip Kamis (24/6/2026).
Di negara-negara tersebut, para pelaku usaha kecil terbukti bergerak lincah memanfaatkan teknologi digital dan perangkat AI untuk meluncurkan produk baru, memperluas jangkauan pasar, sekaligus membuka lowongan kerja baru.
Guna memaksimalkan potensi ini, Eswaran menyerukan pergeseran fokus kebijakan dari para pembuat keputusan. Pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan didesak untuk tidak lagi sekadar berfokus pada cara memenuhi formasi lowongan kerja konvensional yang sudah ada.
Sebaliknya, para pemangku kebijakan harus bersinergi membangun landasan ekosistem yang kondusif—termasuk akses modal, infrastruktur digital, serta pelatihan keterampilan ulang (reskilling) berbasis AI secara kontinu. Langkah kolaboratif ini krusial untuk menciptakan kondisi agar lebih banyak orang mampu bertransformasi menjadi wirausahawan yang mandiri dan sekaligus menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) bagi generasi masa depan.
HENNI S.


















Discussion about this post