youngster.id - Pasar Initial Public Offering (IPO) di Indonesia mengalami kelesuan signifikan sepanjang semester pertama (H1) 2026. Namun menariknya, kondisi ini berbanding terbalik dengan tren regional Asia Tenggara, di mana total nilai dana yang dihimpun oleh para emiten di kawasan tersebut justru melonjak tajam hingga 85%.
Data terbaru dari EY mencatat, secara keseluruhan Asia Tenggara membukukan 35 IPO dengan total dana yang dihimpun mencapai US$2,5 miliar sepanjang H1 2026. Meski secara volume transaksi mengalami penurunan sebesar 30% dibandingkan periode yang sama tahun 2025, nilai akumulasi dana meroket akibat besarnya nominal dari sejumlah kesepakatan besar di kawasan.
Penurunan Aktivitas IPO di Indonesia
Indonesia mencatatkan aktivitas yang melambat dengan hanya satu IPO yang berhasil menghimpun dana senilai US$17,8 juta pada semester pertama 2026. Angka ini jauh di bawah performa semester pertama 2025 yang mencapai 14 kesepakatan dengan nilai US$427,5 miar.
Sementara itu, Singapura berhasil mengambil alih posisi sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara berdasarkan kapitalisasi pasar pada kuartal ini. Singapura mencatat lima IPO dengan total dana US$1,1 miliar, meningkat tajam dibandingkan tahun lalu yang hanya mencatatkan satu kesepakatan senilai US$4,5 juta. Efek dari Equity Market Development Program (EQDP) yang diperkenalkan pada Februari 2025 dinilai berhasil menyuntikkan likuiditas dan menarik perusahaan, terutama dari sektor properti, untuk melantai di bursa.
Di sisi lain, Malaysia tetap menjadi pasar yang paling aktif di kawasan ini dengan 28 IPO yang berhasil menghimpun US$1,4 biliar. Sementara Thailand mencatat satu IPO dengan nilai US$10,4 juta, menurun dari lima kesepakatan senilai US$27,4 juta pada tahun sebelumnya.
Faktor Geopolitik dan Sentimen Pasar
Chan Yew Kiang, EY ASEAN IPO Leader, mengungkapkan bahwa ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, terus memengaruhi sentimen pasar sepanjang kuartal kedua 2026. Situasi ini mendorong para calon emiten untuk mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan perubahan regulasi di berbagai negara kawasan pada akhirnya memaksa perusahaan untuk lebih waspada dan cermat dalam merencanakan IPO mereka, terutama di tengah ketidakpastian prospek jangka pendek.
Di sisi lain, kondisi ini juga memicu selektivitas investor yang semakin tinggi. Performa pasca-IPO yang cenderung melemah mencerminkan sentimen investor yang sangat berhati-hati terhadap ketidakpastian suku bunga global, sehingga mereka kini menjadi jauh lebih selektif dalam menempatkan modal di tengah pasar yang volatil.
Selain itu, dinamika ini turut mengubah fokus sektor yang diminati di pasar modal. Secara global dan regional, sektor teknologi keras—seperti infrastruktur kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, robotika, dan manufaktur canggih—kini jauh lebih mendominasi dan memikat perhatian pelaku pasar dibandingkan dengan sektor-sektor tradisional seperti manufaktur konvensional, properti, dan jasa keuangan tradisional.
Terkait kondisi tersebut, Chan menegaskan situasi riil yang dihadapi oleh para pelaku industri saat ini.
“Efek dari konflik Timur Tengah dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut terus memengaruhi sentimen pencatatan saham pada kuartal kedua tahun 2026. Hal ini, dikombinasikan dengan perubahan regulasi di seluruh kawasan, telah menyebabkan para pemburu IPO mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dengan rencana pencatatan saham mereka, terutama di tengah ketidakpastian prospek jangka pendek,” ujar Chan, Jum’at (17/7/2026).
Chan menambahkan bahwa bagi banyak kandidat IPO, hambatan utama saat ini lebih terletak pada persetujuan regulasi daripada sentimen pasar. Begitu persetujuan didapatkan, perusahaan cenderung melanjutkan rencana mereka tanpa menunda terlalu lama demi menjaga ekspektasi valuasi. (*AMBS)
