youngster.id - Startup teknologi agrikultur (agritech) asal Indonesia, AgriAku, dilaporkan telah mengantongi pendanaan baru sekitar US$4 hingga US$6 juta (sekitar Rp65 miliar hingga Rp97 miliar) melalui putaran convertible note (surat utang wajib konversi).
Dilaporkan DealStreetAsia, putaran pendanaan yang telah rampung beberapa bulan lalu ini dipimpin oleh Redbadge Pacific, lengan investasi Asia-Pasifik dari family office asal Amerika Serikat, Redbadge.
“Sejumlah investor lama maupun baru turut berpartisipasi dalam putaran ini, termasuk sang pendiri, Irvan Kolonas, yang ikut memberikan kontribusi modal secara personal,” katanya, Selasa (2/6/2026).
Suntikan modal baru ini akan digunakan sebagai landasan pacu tambahan (runway) bagi perusahaan di tengah langkah strategis AgriAku yang mengalihkan fokus bisnisnya. Startup ini kini bergeser dari model B2B marketplace guna berkonsentrasi penuh pada distribusi sarana produksi pertanian (saprotan), khususnya sektor pupuk.
Sebelum adanya pivot strategis ini, AgriAku telah melakukan restrukturisasi organisasi internal yang berdampak pada pengurangan jumlah karyawan sekitar 20% hingga 30% pada tahun lalu.
Didirikan pada Mei 2021 oleh Irvan Kolonas dan Danny Handoko, AgriAku tercatat telah mengumpulkan total pendanaan ekuitas sebesar US$46 juta hingga saat ini.
Pada Desember 2021, meraih pendanaan awal (Seed Funding) yang dipimpin oleh Arise, dana kelolaan kolaboratif antara MDI Ventures dan Finch Capital. Tahun 2022, AgriAku memperoleh pendanaan Seri A senilai US$35 juta yang dipimpin oleh Alpha JWC Ventures, disusul dengan pendanaan tambahan (extension) sebesar US$5 juta.
Putaran Seri A tersebut memperkuat posisi AgriAku di industri karena berhasil menarik minat investor besar. Di antaranya adalah MDI Growth, Go-Ventures (sekarang-GoTo Ventures), Alto Partners, InnoVen Capital, hingga Mercy Corps Social Venture Fund.
Bahkan, AgriAku menjadi satu-satunya startup agritech yang disokong oleh tiga lengan modal ventura BUMN terbesar di Indonesia secara sekaligus, yaitu MDI Ventures (Telkom), BRI Ventures, dan Mandiri Capital Indonesia. Tak hanya itu, investor strategis global seperti Gentree Fund, K3 Ventures, dan perusahaan publik asal Thailand, Thai Wah, juga sempat bergabung untuk mendukung potensi ekspansi internasional.
Sebagai operator platform pengadaan dan pengiriman saprotan, AgriAku didesain untuk memangkas hambatan akses bagi para petani dan toko tani (mitra agen). Melalui aplikasi seluler, platform ini menyediakan fitur pemesanan on-demand, pencarian inventaris, pengecekan stok secara real-time, pencatatan produk oleh peritel mitra, hingga perluasan jaringan berbasis geolokasi.
Dengan portofolio pendiri yang kuat—Irvan Kolonas yang berpengalaman di industri agrobisnis (CEO Vasham) dan Danny Handoko yang merupakan mantan Co-Founder & CEO Airy Indonesia—AgriAku awalnya memfokuskan inovasi pada layanan bernilai tambah seperti logistik dan pembiayaan guna mengoptimalkan unit ekonomi.
Kini, dengan dukungan finansial terbaru dari Redbadge Pacific dan fokus baru pada jalur distribusi pupuk, AgriAku bersiap memperkuat penetrasi pasar dan efisiensi operasional jaringan distributor di seluruh Indonesia guna membantu petani meningkatkan produktivitas serta hasil panen mereka. (*AMBS)


















Discussion about this post