youngster.id - Belajar kewirausahaan bagi siswa SMA dan SMK kini tidak lagi hanya soal memahami cara membuat dan menjual produk. Perkembangan teknologi digital dan perubahan dunia usaha membuat siswa juga perlu mengenal cara memanfaatkan artificial intelligence (AI), membaca peluang pasar, hingga mengelola keuangan.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam Zurich Entrepreneurship Program (ZEP), program yang dijalankan Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia. Pada tahun ajaran 2026–2027, program ini membekali 6.125 siswa SMA dan SMK di sepuluh kota dengan keterampilan kewirausahaan.
Country Manager Zurich Indonesia, Edhi Tjahja Negara, mengatakan perubahan teknologi, perilaku konsumen dan dinamika ekonomi membuat dunia usaha terus berkembang.
“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat, sehingga mereka tumbuh lebih percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” ucapnya dikutip Selasa (22/9/2026).
Pada implementasi 2026–2027, pembelajaran kewirausahaan dalam program ini dilakukan melalui pengembangan Student Company, yang memungkinkan siswa mempelajari seluruh proses membangun dan mengelola usaha, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, hingga mengelola operasional dan keuangan usaha.
Tahun ini, tema kearifan lokal mendorong siswa menggali budaya, sumber daya, dan potensi ekonomi di sekitar mereka sebagai inspirasi bisnis yang memiliki identitas dan nilai tambah.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati mengatakan, pengalaman membangun usaha secara langsung dapat membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang bisnis.
“Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai. Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan,” katanya.
Selain itu, perkembangan teknologi juga semakin diintegrasikan dalam pembelajaran kewirausahaan melalui pemanfaatan AI untuk mendukung pengembangan ide bisnis, riset pasar sederhana, penyusunan materi promosi, hingga eksplorasi peluang usaha baru. Pada saat yang sama, siswa dibekali pemahaman untuk menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab sehingga mampu memaksimalkan manfaat teknologi tanpa mengabaikan aspek integritas dan kreativitas manusia.
“Transformasi teknologi dan perkembangan lanskap ekonomi membuka banyak peluang baru bagi generasi muda. Melalui ZEP, kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” kata Adriana Poglia Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation.
Fase kedua ZEP ditargetkan menjangkau 16.975 siswa hingga 2028. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman, program ini menempatkan kewirausahaan, teknologi digital, literasi finansial dan potensi lokal sebagai bagian dari keterampilan yang perlu dipersiapkan siswa untuk menghadapi dunia kerja dan usaha yang terus berubah.
Di akhir program, bisnis pelajar terbaik berkesempatan mengikuti kompetisi tingkat regional dan nasional. Siswa juga memiliki peluang melanjutkan pengalaman tersebut ke kompetisi kewirausahaan pelajar tingkat internasional.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post