youngster.id - Bisnis makanan dan minuman di Indonesia terus berkembang seiring perubahan gaya hidup dan kebutuhan konsumen. Di tengah persaingan yang semakin beragam, pelaku usaha tidak hanya dituntut menghadirkan produk yang menarik, tetapi juga menawarkan pengalaman konsumsi yang praktis dan berbeda.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 5,28 juta unit pada 2024. Di sisi lain, pilihan minuman masyarakat juga semakin beragam, mulai dari kopi dan teh hingga matcha dan minuman herbal.
Peluang tersebut mendorong Jumpstart Indonesia mengembangkan bisnis minuman berbasis teknologi melalui brand NOD (Never Ordinary Device) Smart Remaker. Sejak diluncurkan pada November 2024, NOD dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen modern yang menginginkan minuman berkualitas tinggi tanpa perlu persiapan yang rumit.
Bahkan, berbeda dari mesin kopi konvensional, NOD memperluas kategori produk dengan menghadirkan minuman tradisional Indonesia, seperti jamu, wedang jahe, dan kunyit asam.
“Kami memiliki teknologi penyeduhan presisi yang memastikan rasa dan aroma dari setiap produk minuman tetap otentik serta higienis, sekaligus memberikan pengalaman minum yang lebih praktis,” kata Raynald Soeharto Chief Marketing Officer (CMO) JumpStart Indonesia yang ditemui di sela-sela gelar CoCreate Pitch 2026, Selasa (13/10/2026) di Jakarta.
Raynald mengungkapkan, pengembangan produk ini berangkat dari kebutuhan untuk menikmati berbagai jenis minuman secara praktis, terutama ketika aktivitas masyarakat banyak dilakukan di rumah selama pandemi.
“Berawal dari pandemi, ketika kita semua di rumah tetapi ingin bisa menikmati minuman dengan bermacam-macam varian. Dari situ, kami mencari sesuatu yang lebih praktis,” ujarnya.
Menariknya, di tengah banyaknya pilihan mesin kopi Rayland mengatakan, NOD melihat peluang untuk mengembangkan kategori minuman yang lebih luas. Strategi ini menjadi pembeda utama perusahaan, yang tidak hanya menyasar konsumen kopi, tetapi juga mereka yang ingin menikmati teh, cokelat, matcha, hingga minuman herbal ala Indonesia yaitu jamu.
Menurut Raynald, keputusan tersebut didasarkan pada kebutuhan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dari produk yang telah tersedia di pasar.
“Kalau di pasar Indonesia, kita sebenarnya tidak membutuhkan mesin kopi lagi karena sudah banyak. Jadi, apa diferensiasinya? Kita menghadirkan mesin yang juga bisa digunakan untuk minuman lain,” katanya.
Melalui Smart Remaker NOD berupaya menggabungkan kepraktisan teknologi dengan keragaman minuman. Konsumen dapat menikmati berbagai pilihan tanpa harus menyiapkan bahan secara terpisah, termasuk ketika ingin menyajikan minuman tradisional yang membutuhkan proses peracikan.
NOD juga mengembangkan teknologi penyeduhan yang disebut Brew and Bloom. Teknologi ini memungkinkan proses penyajian disesuaikan dengan karakter bahan dan jenis minuman. Dalam pengembangan portofolionya, Raynald menyebut NOD telah memiliki lebih dari 50 varian kapsul minuman.
Kolaborasi dan Ekspansi
Selain mengembangkan teknologi dan variasi produk, JumpStart membangun bisnis NOD melalui kolaborasi dengan merek yang telah memiliki produk serta karakter rasa tersendiri.
Sejumlah mitra yang disebut Raynald antara lain Anomali, Expat Roastery, Common Grounds, dan Pipiltin. Melalui kolaborasi tersebut, produk dari merek mitra dapat dihadirkan dalam format kapsul untuk disajikan menggunakan Smart Remaker.
“Salah satu tantangan dalam mengembangkan mesin minuman berbasis kapsul adalah memastikan hasil seduhan tetap sesuai dengan ekspektasi konsumen. Hal ini terutama penting ketika bekerja sama dengan merek kopi yang telah memiliki standar rasa tersendiri. Untuk itu, kami mengembangkan pengaturan resep melalui aplikasi agar karakter minuman dapat disesuaikan, sehingga rasa yang dihasilkan mendekati rasa minuman yang disajikan di kafe mitra tersebut,” paparnya.
Dari sisi pasar, NOD mengembangkan bisnis melalui segmen business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Untuk segmen B2B, perangkatnya digunakan di sejumlah hotel, kafe, lounge, klinik kecantikan, dan fasilitas layanan pelanggan.
Raynald menyebut, saat ini pihaknya telah menjual sekitar 10.000 mesin Smart Remaker di Indonesia dalam kurun waktu dua tahun. Perusahaan juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra untuk memperluas penggunaan perangkat di berbagai kebutuhan bisnis.
“Model ini memungkinkan NOD tidak hanya menjual perangkat kepada konsumen individu, tetapi juga menawarkan solusi penyajian minuman kepada bisnis yang ingin menyediakan beragam pilihan bagi pelanggan,” katanya.
Setelah mengembangkan pasar domestik, NOD mulai melihat peluang pertumbuhan di luar Indonesia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengikuti program Alibaba Pitch dan menjajaki pemanfaatan Alibaba.com untuk memperluas akses ke pembeli internasional.
Raynald mengatakan, platform tersebut memiliki sejumlah fitur yang berpotensi membantu perusahaan menemukan calon pembeli, memahami permintaan pasar, dan mengidentifikasi peluang kerja sama di luar negeri.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu NOD menentukan pasar yang sesuai dengan karakter produk serta menjangkau mitra bisnis yang berpotensi mendukung distribusi internasional.
“Alibaba bisa menjembatani kita untuk masuk ke pasar luar negeri,” kata Raynald.
Menurut Raynald, untuk pengembangan pasar pihaknya memprioritaskan kawasan Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Filipina. Sedang Eropa sebagai salah satu sasaran ekspansi dalam jangka menengah.
Di Filipina, NOD tengah menjajaki peluang pemasaran melalui Concepcion Store, yang disebut Raynald sebagai salah satu jaringan ritel peralatan rumah tangga besar di negara tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan pasar di luar Indonesia, tidak hanya melalui partisipasi dalam pameran, tetapi juga dengan mencari mitra yang dapat membantu pemasaran dan distribusi produk.
Pengembangan NOD memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan model bisnis baru di industri minuman. Perusahaan tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat, tetapi juga membangun portofolio kapsul, menjalin kolaborasi dengan merek lokal, dan memperluas penggunaan produk melalui segmen konsumen individu maupun bisnis.
Raynald menegaskan, minuman tradisional Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari diferensiasi tersebut.
“Melalui format kapsul, kami berupaya menghadirkan cara yang lebih praktis untuk menikmati jamu dan minuman herbal tanpa menghilangkan karakter bahan yang digunakan. Ke depan, tantangannya adalah mengubah ketertarikan pasar menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain memperluas jaringan distribusi, perusahaan perlu memastikan kualitas produk tetap konsisten serta menyesuaikan penawaran dengan preferensi konsumen di setiap pasar. Dengan menggabungkan teknologi penyeduhan, variasi minuman, dan kolaborasi dengan merek lokal, NOD berupaya membangun bisnis yang tidak hanya bertumpu pada tren minuman, tetapi juga pada inovasi dalam cara produk disajikan dan dipasarkan.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post