youngster.id - KUMPUL terus memperkuat posisinya sebagai ecosystem enabler di Indonesia dengan menghubungkan pelaku usaha tahap awal (early-stage enterprises), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta komunitas lokal dengan korporasi, pemerintah, hingga investor internasional. Langkah ini dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan keberlanjutan berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Didirikan sejak 2015, KUMPUL hadir memfasilitasi bisnis tahap awal melalui sinergi lintas sektor, baik Business to Government (B2G), Business to Business (B2B)/CSR, maupun donor internasional. Sejak 2022, KUMPUL secara aktif mengintegrasikan kerangka kerja ESG ke dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada ketahanan penghidupan terhadap perubahan iklim, kesetaraan gender, serta transformasi digital yang etis dan bertanggung jawab.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama, yaitu KUMPUL Ecosystem, KUMPUL Advisory, dan KUMPUL Innovation Lab. Ketiga pilar ini mencakup pengembangan kapasitas bisnis, perluasan akses pasar, pendampingan, kesiapan organisasi, riset terapan, hingga pembukaan akses koneksi pembiayaan berdampak.
Fasilitasi 10.000 Penerima Manfaat dan Pendanaan Startup Berdampak
Chairperson dan Founder KUMPUL, Faye Wongso, menjelaskan bahwa bagi KUMPUL, ESG bukan sekadar kerangka kerja pelaporan, melainkan sebuah metode untuk membangun ekosistem yang memungkinkan lahirnya solusi-solusi berdampak tinggi.
“Selama ini KUMPUL dikenal sebagai Super Connector. Kami berperan sebagai fasilitator, inkubator, dan akselerator yang menghubungkan startup, UMKM, pemerintah, korporasi, hingga investor. Yang kami lakukan adalah memastikan inovasi tidak berhenti di tahap ide, tetapi benar-benar menghasilkan dampak yang terukur bagi masyarakat dan lingkungan,” tegas Faye, dikutip Selasa (11/8/2026).
Rekam jejak kontribusi KUMPUL terlihat sepanjang 2025 hingga Mei 2026. Dalam periode tersebut, KUMPUL telah menjalankan 14 inisiatif berdampak yang menjangkau lebih dari 10.000 penerima manfaat melalui pelatihan, masterclass, dan workshop di berbagai wilayah Indonesia. KUMPUL juga menerbitkan tujuh publikasi riset, termasuk KUMPUL Impact Report 2025 dan studi kasus pembiayaan responsif gender.
Salah satu program unggulannya adalah EmPower II, hasil kolaborasi dengan UN Women dan United Nations Environment Programme (UNEP). Program ini menerapkan skema de-risking bagi lebih dari 400 usaha ultra mikro milik perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kemudian direplikasi ke Jawa Barat dan Jawa Timur untuk mempercepat adopsi teknologi cerdas iklim.
Selain itu, KUMPUL memfasilitasi kesiapan bisnis tiga impact-driven startup—yaitu Nexmedis, Waterhub, dan DoctorTool—hingga berhasil mengamankan pendanaan senilai lebih dari US$3,3 juta.
Strategi Masa Depan dan Skema Catalytic Financing
Ke depan, KUMPUL menargetkan penguatan perannya sebagai jembatan antara solusi lokal dan investasi berdampak (impact investment). Pengembangan inisiatif lanjutan akan mengeksplorasi skema catalytic financing dan de-risking mechanism untuk membantu pelaku usaha mengurangi risiko operasional, memperkuat kesiapan organisasi, serta terhubung ke sumber pendanaan global.
Langkah ini sejalan dengan komitmen KUMPUL untuk terus mendorong agenda inklusi sosial dan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia, sekaligus memperluas ruang belajar dan kolaborasi dengan mitra pembangunan.
Atas konsistensi dan kontribusinya dalam membangun ekosistem bisnis berdampak, KUMPUL meraih penghargaan sebagai Best Facilitator dalam ajang ESG Award 2026 by KEHATI. ESG Award by KEHATI merupakan ajang apresiasi dari Yayasan KEHATI bagi organisasi yang mendorong penerapan prinsip ESG secara nyata di Indonesia.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post