youngster.id - Platform lending-as-a-service asal Indonesia, Finfra, menjadi perusahaan pertama yang menerima kucuran investasi dari dana NextFin Asia. Suntikan modal baru dalam putaran pendanaan ekstensi Seri A ini dipimpin oleh ADB Ventures, lini modal ventura dari Asian Development Bank (ADB), serta didukung oleh investor kawakan Cento Ventures dan Accion Ventures.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh The Luxembourg House of Financial Technology (LHoFT). Dana segar ini dialokasikan untuk memperkuat platform teknologi Finfra, mengakselerasi pertumbuhan bisnis, serta mendukun ekspansi ke pasar baru di kawasan Asia Tenggara.
NextFin Asia sendiri merupakan dana investasi khusus yang diluncurkan pada Februari 2026 untuk mendukung program akselerasi Catapult: Inclusion SE Asia milik LHoFT. Inisiatif ini merupakan kemitraan strategis antara LHoFT, ADB Ventures, dan Kementerian Luar Negeri Luxembourg.
Acting CEO LHoFT, Alex Panican, menyambut positif realisasi investasi perdana ini sebagai bentuk kolaborasi unik antara bank pembangunan global dan akselerator fintech.
“Ketika kami meluncurkan NextFin Asia, kami menyebutnya sebagai terobosan pertama di dunia: sebuah bank pembangunan bergandengan tangan dengan akselerator fintech untuk berinvestasi pada inovasi yang mendorong inklusi keuangan dan dampak sosial. Dengan investasi pertama ini, ambisi tersebut kini menjadi kenyataan,” ujar Alex, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Finfra, yang merupakan alumnus program Catapult: Inclusion SE Asia tahun 2024, menyediakan infrastruktur dan kapabilitas operasional agar lembaga keuangan dapat meluncurkan serta mengoperasikan produk pinjaman secara efisien tanpa harus membangun sistem operasional dari nol.
Infrastruktur Embedded Finance untuk Usaha Kecil
Melalui satu platform terintegrasi, Finfra memungkinkan lembaga keuangan mengelola seluruh siklus pinjaman—mulai dari inisiasi, analisis kelayakan (underwriting), pelayanan, hingga penagihan—serta mendukung model embedded finance bagi platform digital. Kehadiran platform terpadu ini mempermudah lembaga keuangan dalam menjangkau peminjam dari kelompok masyarakat yang belum terlayani (underserved).
Selain itu, teknologi Finfra memungkinkan platform bisnis mengintegrasikan fasilitas kredit digital secara langsung ke dalam jalur transaksi konsumen (customer journey), sehingga membuka jalan lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan akses permodalan kerja melalui jalur formal.
Founder dan CEO Finfra, Markus Prommik, mengungkapkan bahwa akses terhadap kredit masih menjadi tantangan utama bagi usaha kecil di Asia Tenggara.
“Misi kami adalah membuat infrastruktur pinjaman lebih mudah diakses sehingga lembaga keuangan dapat melayani lebih banyak bisnis dan individu yang selama ini terabaikan. Kami berterima kasih atas dukungan para investor dan bersemangat untuk terus membangun infrastruktur yang memperluas akses modal bagi jutaan usaha kecil di kawasan ini,” kata Markus.
Investment Specialist ADB Ventures, Yichu Zhang, menambahkan bahwa Finfra hadir menutup kesenjangan pembiayaan dengan menekan biaya operasional dan kompleksitas lembaga keuangan dalam menjangkau pelaku usaha kecil melalui jalur formal. (*AMBS)
















Discussion about this post