youngster.id - Superbank (PT Super Bank Indonesia Tbk) membukukan kinerja keuangan yang sangat solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Bank digital yang didukung oleh ekosistem raksasa seperti Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS ini mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan di tengah pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kuat.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Superbank meraup laba bersih sebesar Rp299,89 miliar, melesat hampir lima kali lipat dibandingkan Rp60,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Laba Sebelum Pajak (Profit Before Tax/PBT) tercatat tumbuh 376% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp385,06 miliar. Peningkatan profitabilitas ini didorong oleh pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang naik 41,9% YoY menjadi Rp1,56 triliun.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang terus diberikan oleh masyarakat, di mana basis nasabah Superbank kini telah melampaui 8 juta pengguna.
“Bagi kami, pertumbuhan bukan sekadar tentang seberapa banyak nasabah yang bergabung, tetapi juga kepercayaan yang mereka berikan kepada Superbank. Kepercayaan ini menjadi fondasi penting bagi kami untuk terus memperkuat bisnis, menghadirkan layanan yang relevan bagi nasabah, serta menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Tigor, dikutip Kamis (29/10/2026).
Pertumbuhan DPK, Kredit, dan Efisiensi Operasional
Kinerja positif Superbank tecermin nyata dari ekspansi bisnis penyaluran pembiayaan dan penghimpunan dana masyarakat yang masif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh pesat 79,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp17,6 triliun, yang didominasi oleh simpanan pihak ketiga sebesar Rp17,49 triliun guna memperkuat struktur likuiditas bank.
Sementara itu, penyaluran kredit meningkat 52,6% YoY mencapai Rp13,8 triliun—atau tumbuh 43,40% dibandingkan posisi pada akhir Desember 2025. Sejalan dengan pertumbuhan penghimpunan dana dan pembiayaan tersebut, total aset Superbank melonjak 66,3% YoY hingga menyentuh Rp27,50 triliun.
Dari sisi efisiensi dan permodalan, Superbank mencatatkan perbaikan kinerja yang optimal dengan Cost to Income Ratio (CIR) berada di level 54,16% dan Pre Tax Return on Equity (ROE) yang meningkat menjadi 6,23%. Perusahaan juga menjaga rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) di angka yang sangat kuat, yakni 73,26%, serta rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL bruto) yang turun menjadi 2,30%.
Inovasi Ekosistem Digital dan Kolaborasi Strategis
Ekspansi bisnis Superbank didukung oleh integrasi ekosistem digital yang semakin mendalam dengan para pemegang saham utamanya. Melalui produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS), pengguna aplikasi Grab dan OVO dapat mengakses layanan pembiayaan secara langsung tanpa perlu mengunduh aplikasi terpisah.
Selain itu, pada kuartal III 2026, Superbank memperkenalkan fitur Top-Up & Bayar guna memudahkan nasabah bertransaksi harian, mulai dari pengisian saldo e-wallet, pembelian pulsa, hingga pembayaran berbagai tagihan. Superbank juga memperkuat kolaborasi bersama Grab dalam mendukung mobilitas ramah lingkungan melalui pengadaan ratusan kendaraan listrik untuk armada GrabCar Plus Electric.
Dengan fundamental keuangan yang kokoh dan inovasi layanan yang relevan, Superbank optimis dapat terus menghadirkan solusi perbankan digital yang aman, mudah diakses, dan handal bagi masyarakat Indonesia hingga penghujung tahun 2026. (*AMBS)
















Discussion about this post