youngster.id - Bank berbasis layanan digital Superbank (PT Super Bank Indonesia Tbk/SUPA) membukukan lonjakan kinerja keuangan signifikan pada Semester I 2026. Superbank mencatatkan laba sebelum pajak (profit before tax) sebesar Rp234 miliar, melonjak 669% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan ekspansi pasar yang pesat, di mana basis nasabah Superbank kini menembus 7 juta pengguna. Total aset perseroan turut tumbuh 81,5% YoY menjadi Rp27 triliun hingga Juni 2026.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyampaikan bahwa pencapaian ini membuktikan efektivitas strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang dibangun bersama para pemegang saham.
“Semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi Superbank. Strategi berbasis ekosistem yang dibangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset,” ujar Tigor, dikutip Rabu (29/7/2026).
Penyaluran Kredit dan DPK Tumbuh Signifikan
Sinergi ekosistem menjadi motor utama pertumbuhan bisnis perseroan. Hingga Juni 2026, lebih dari 60% nasabah Superbank berasal dari pengguna aktif ekosistem Grab dan OVO. Integrasi ini juga mendorong pertumbuhan fungsi intermediasi, termasuk hadirnya produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS).
Pencapaian positif Superbank sepanjang paruh pertama 2026 tecermin dari solidnya sejumlah indikator operasional perseroan. Dari fungsi intermediasi, penyaluran kredit mencatatkan nilai sebesar Rp13,4 triliun, tumbuh 61% secara tahunan (year-on-year) atau naik 17,6% dibandingkan kuartal sebelumnya. Capaian ini diimbangi oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melonjak 89,1% YoY menjadi Rp15,9 triliun.
Pertumbuhan operasional tersebut mendorong Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 51,7% YoY menjadi Rp1,01 triliun, dengan Net Interest Margin (NIM) yang tetap terjaga stabil di level 8,7%. Sejalan dengan itu, efisiensi operasional perseroan membaik secara signifikan, terlihat dari Cost to Income Ratio (CIR) yang turun menjadi 54,8% dari posisi 74,65 pada Semester I 2025.
Kualitas Aset dan Permodalan Makin Sehat
Di tengah laju ekspansi, kualitas kredit Superbank mencatatkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah kotor (gross Non-Performing Loan/NPL) turun menjadi 1,6% dari posisi 2,7% pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi ketahanan finansial, Capital Adequacy Ratio (CAR) Superbank berada di level kuat sebesar 74,5%, sementara Pre-Tax Return on Equity (ROE) melesat menjadi 5,7% dari sebelumnya 1,2%.
Memasuki Semester II 2026, bank digital yang didukung oleh konsorsium Grab, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank ini berkomitmen untuk terus memperluas integrasi layanan keuangan serta menghadirkan inovasi produk secara prudent guna memperluas inklusi keuangan di Indonesia. (*AMBS)
















Discussion about this post