youngster.id - Green chemistry mulai membuka peluang baru bagi startup Indonesia untuk masuk lebih jauh ke sektor industri. Bukan hanya mengembangkan produk, startup di bidang ini juga ditantang menghadirkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Peluang tersebut menjadi fokus Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia yang digelar Universitas Pertamina. Program ini mempertemukan startup dengan investor, pelaku industri, pemerintah, dan mitra ekosistem inovasi.
Tahun ini, sebanyak 130 startup dari seluruh Indonesia mendaftar. Setelah melalui beberapa tahap seleksi, 11 startup terpilih mengikuti Main Bootcamp dan tahap final.
Project Director GGINP Indonesia Teuku Muhammad Roffi mengatakan, startup yang mengikuti program tidak hanya dituntut mengembangkan bisnis, tetapi juga menerapkan teknologi green chemistry dalam proses industri.
“Jadi mereka tidak hanya mengembangkan bisnis, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek kimia hijau yang bisa diterapkan dalam bisnis mereka,” kata Roffi dikutip Selasa (29/9/2026).
Menurut Roffi, green chemistry dapat diterapkan dengan mengurangi produk sampingan atau by-products, menggunakan kembali produk sisa, serta mengurangi penggunaan bahan-bahan berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.
“Pada dasarnya adalah ingin meningkatkan kualitas dari proses-proses industri atau proses kimia supaya lebih bersahabat dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Tantangan berikutnya adalah membawa inovasi dari tahap riset menuju penerapan di industri. Chief Technical Advisor UNIDO Salil Dutt menyebut adanya valley of death, yaitu kondisi ketika sebuah ide atau inovasi dapat berhenti berkembang karena tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Menurut Salil, dibutuhkan ekosistem yang menghubungkan pencetus ide, universitas, regulator, industri, dan investor agar inovasi dapat bergerak dari tahap pengujian dan prototipe menuju implementasi yang lebih luas.
Keduanya berharap startup green chemistry nantinya dapat memberikan dampak seperti perkembangan startup digital di Indonesia.
“Kita juga berharap startup kimia hijau bisa melakukan itu. Jadi, hilirisasi di Indonesia, mudah-mudahan tidak berbasis hanya, katakanlah bisnis semata orientasinya, tapi juga memperhatikan aspek-aspek sustainability, keberlanjutan ke depannya,” kata Roffi lagi.
Program GGINP Indonesia 2026 memilih tim TARUNIRA menjadi juara pertama melalui inovasi Palmyra Palm Sugar & Mocaf di sektor sustainable food-agriculture. Sementara itu, SATUPLATFORM menjadi runner-up pertama dengan Carbon & ESG Management Solutions dan ORGANIC CULTURE sebagai runner-up kedua melalui Transforming Fashion for Climate Action.
Melalui pengembangan startup green chemistry, inovasi tidak hanya diarahkan untuk menciptakan bisnis baru, tetapi juga membuka peluang bagi industri Indonesia untuk mengadopsi proses produksi yang lebih berkelanjutan.
STEVY WIDIA
