youngster.id - Perusahaan fintech lending asal Indonesia, JULO, kembali mengamankan suntikan modal segar. Laporan DealStreetAsia menyebutkan bahwa putaran pendanaan terbaru ini dipimpin oleh Saratoga Investama Sedaya, serta didukung oleh jajaran investor lama seperti Saison Capital, Central Capital Ventura (ACV/CCV), Quona Capital, dan Skystar Capital. Meski besaran nilainya tidak diungkapkan ke publik, dukungan berlanjut ini menegaskan kepercayaan pemodal di tengah tren selektivitas investor (tech winter) terhadap industri teknologi finansial.
Suntikan modal ini tiba di saat industri fintech lending Tanah Air memasuki fase kematangan yang menekankan kualitas kredit dan tata kelola risiko. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pinjaman fintech lending nasional menembus Rp98,54 triliun per Januari 2026, tumbuh 25,52% secara tahunan (year-on-year).
Presiden Direktur JULO, Harri Suhendra, menegaskan bahwa kualitas kredit merupakan pilar utama pertumbuhan berkelanjutan. Oleh karena itu, modal baru ini diproyeksikan untuk memperkuat sistem underwriting, analitik berbasis data perilaku holistik, hingga ekspansi bisnis dan infrastruktur teknologi perusahaan.
Rekam Jejak Pendanaan JULO
Didirikan pada tahun 2016, JULO berfokus mendorong inklusi keuangan bagi masyarakat underbanked dan segmen berpenghasilan menengah melalui produk pinjaman digital serta kartu kredit virtual. Perusahaan resmi mengantongi izin operasional penuh dari OJK pada Mei 2020 dan terus memperluas jangkauan layanannya secara nasional untuk membiayai modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, hingga kesehatan.
Pada 2018, JULO memperoleh pendanaan Series A sebesar US$10 juta dari sejumlah investor, termasuk East Ventures dan Skystar Capital. Dana tersebut mendukung pengembangan layanan kredit digital yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, dan layanan kesehatan.
Setahun kemudian, pada September 2019, JULO menyelesaikan pendanaan Series A2 senilai US$15 juta.
JULO kemudian memperoleh izin operasional dari OJK pada Mei 2020 dan memperluas layanan fintech lending ke berbagai wilayah di Indonesia.
Pada April 2022, JULO Mengantongi total pendanaan US$80 juta dari Credit Saison (terdiri dari ekuitas US$30 juta via saham B2/B3 dan fasilitas debt US$50 juta). Putaran ini mendongkrak valuasi JULO menjadi US$200 juta. Masuknya Credit Saison—yang berafiliasi dengan Mizuho Financial Group—juga membawa keahlian lending global serta dukungan tata kelola untuk rencana ekspansi regional.
Pada Juli 2026, JULO berhasil mengamankan suntikan modal segar senilai hingga US$5 juta (sekitar Rp78 miliar) dari jajaran investor lamanya (existing investors), seperti Credit Saison, Quona Capital, Skystar Capital, dan East Ventures.
Perkembangan Bisnis JULO
Selain mengembangkan layanan pinjaman digital, JULO juga memperluas ekosistem layanan keuangannya. Perusahaan menggunakan data perilaku secara menyeluruh dalam proses underwriting dan mengembangkan produk seperti kartu kredit virtual.
JULO mencatat perkembangan bisnis yang signifikan. Sepanjang 2023, JULO mengumpulkan Annual Recurring Revenue (ARR) lebih dari US$120 juta dengan penyaluran pinjaman tahunan US$454 juta (naik 50% YoY). Perusahaan juga berhasil mencapai titik impas laba operasional (operational profit breakeven) pada Desember 2023 dengan retensi pengguna (cohort retention) stabil di angka 70%–75%.
Selama sembilan tahun beroperasi, JULO mencatatkan akumulasi penyaluran pembiayaan digital hingga US$1,7 miliar (sekitar Rp26 triliun) di seluruh Indonesia. Berkolaborasi dengan mitra perbankan strategis seperti Bank Sampoerna dan Superbank, JULO kini bertransformasi membangun platform neobanking guna menggarap potensi pasar segmen menengah Indonesia yang diperkirakan bernilai US$100 miliar. (*AMBS)


















Discussion about this post