youngster.id - Startup teknologi lokal membutuhkan lebih dari sekadar produk inovatif untuk mengembangkan bisnis. Akses ke jaringan industri, calon pembeli, dan mitra strategis juga menjadi faktor penting agar solusi yang mereka kembangkan dapat menjangkau pasar lebih luas.
Peluang memperluas pasar menjadi relevan di tengah perkembangan ekosistem startup Indonesia. Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index 2026 yang dikutip dalam materi rilis, Indonesia menempati peringkat ke-45 secara global dan peringkat ketiga di Asia Tenggara, di bawah Malaysia dan di atas Thailand.
Untuk itu Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif membuka peluang akses pasar bagi 6 startup binaan Direktorat Jasa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan tampil di Paviliun Creative By Indonesia dalam Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, pada 13–14 Oktober 2026 di Jakarta.
Direktur Jasa TIK Donny Harso mengatakan, partisipasi tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah terhadap pengembangan usaha di bidang jasa TIK dan subsektor ekonomi kreatif lainnya, termasuk untuk memperluas jangkauan bisnis hingga ke pasar global.
“Semua startup yang kami tampilkan di sini telah melalui tahap kurasi dan sebagian besar pernah mengikuti program fasilitasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf. Kami meyakini partisipasi dalam pameran ini akan semakin memperluas jaringan bisnis mereka,” ujar Donny dalam siaran pers, dikutip Jumat (16/10/2026).
Dalam pameran bertema AI-Powered Industry: Shaping the Future of Intelligent Enterprise tersebut, 6 startup ini mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produk dan solusi mereka kepada pelaku industri.
Setiap startup menempati booth di Paviliun Ekonomi Kreatif, memperoleh kesempatan melakukan presentasi di Innovation Stage, serta mengikuti sesi business matching dengan calon pembeli dan mitra potensial. Fasilitas ini membuka peluang bagi startup untuk memperluas jaringan bisnis, memperkenalkan kapabilitas teknologi, dan menjajaki kerja sama dengan perusahaan yang membutuhkan solusi digital.
Salah satu peserta, Buraq Teknologi asal Aceh, menawarkan solusi remote AC Controller untuk mengendalikan operasional pendingin ruangan di kompleks bangunan secara terpusat. Dengan sistem tersebut, pengelola tidak perlu mendatangi setiap ruangan untuk mengendalikan AC.
Solusi ini ditujukan untuk membantu meningkatkan efisiensi biaya operasional, terutama di sektor perkantoran, meskipun dapat pula diterapkan pada kompleks perumahan.
Founder Buraq Teknologi Firmansyah mengapresiasi langkah Kementerian Ekonomi Kreatif dalam membuka akses pasar bagi startup jasa TIK. Ia juga menyebut produk yang ditawarkan perusahaannya mendapat animo tinggi dari pengunjung pameran.
“Kegiatan seperti ini cukup memberi kami peluang mempromosikan produk dan layanan kami, juga memberikan pengalaman baru,” ujar Firmansyah. Ia berharap kegiatan serupa dapat berlangsung secara berkesinambungan agar startup daerah memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas.
Indonesia tercatat memiliki 1.724 startup aktif, setara dengan sekitar 17% dari keseluruhan startup di Asia Tenggara. Ekosistem teknologi nasional juga memiliki estimasi nilai mencapai US$75,3 miliar, dengan sembilan perusahaan yang meraih status unicorn maupun mencatatkan aksi likuidasi atau exit bernilai lebih dari US$1 miliar.
Namun, besarnya pasar dan nilai ekosistem tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam laju pertumbuhannya. Pertumbuhan tahunan ekosistem startup Indonesia tercatat sebesar 8,3% pada periode April 2025 hingga April 2026. Angka ini berada di bawah rata-rata global sebesar 26,6% dan rata-rata Asia Tenggara sebesar 33,6%.
Melalui program Creative By Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif berupaya mempertemukan startup lokal dengan calon pembeli dan mitra strategis. Akses tersebut diharapkan membantu pelaku usaha mengembangkan jaringan, memperluas pasar, dan meningkatkan peluang pertumbuhan bisnis di tingkat nasional maupun global.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post