youngster.id - Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, kemampuan berwirausaha, mengelola keuangan, dan beradaptasi dengan berbagai tantangan menjadi keterampilan yang semakin penting bagi generasi muda. Tak heran jika pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning mulai banyak diterapkan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Tren tersebut terlihat melalui pelaksanaan Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) yang dijalankan Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara mengatakan, pendidikan saat ini perlu membekali siswa dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
“Kami percaya pada pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis untuk kehidupan nyata. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemampuan membaca peluang, dan pengambilan keputusan finansial yang lebih baik,” ungkapnya dikutip Kamis (4/6/2026).
Memasuki tahun pertama fase kedua program, ZEP berhasil menjangkau lebih dari 10.000 siswa SMA dan SMK di tujuh kota di Indonesia, melampaui target awal hingga 164%. Tidak hanya itu, program ini juga mendorong lahirnya 35 bisnis pelajar dengan total omzet kolektif mencapai Rp339 juta.
Menurut Edhi, capaian pada tahun pertama fase kedua program menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu memberikan dampak nyata sekaligus membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional, Zurich Entrepreneurship Program mengajak siswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas kewirausahaan. Sejak Juli 2025, peserta program belajar mengenali peluang usaha, menyusun rencana bisnis, hingga menjalankan usaha mikro di lingkungan sekolah. Selain itu, mereka juga mendapatkan pengalaman mengelola keuangan usaha, memahami risiko, serta belajar mengambil keputusan bisnis.
Pendekatan ini tidak hanya mengasah kemampuan berwirausaha, tetapi juga membantu siswa mengembangkan keterampilan yang banyak dibutuhkan di dunia kerja modern. Seperti kerja sama tim, berpikir kritis, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Program ini juga memperkuat literasi keuangan siswa melalui materi mengenai penganggaran, menabung, investasi, hingga pemahaman tentang risiko keuangan
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, mengatakan bahwa implementasi program menunjukkan semakin banyak sekolah yang tertarik menerapkan metode pembelajaran berbasis praktik.
Menurutnya, siswa cenderung lebih terlibat ketika mereka belajar melalui pengalaman langsung dibandingkan hanya menerima teori di dalam kelas.
“Kami melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung—mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan, hingga memahami dunia kerja,” ujarnya.
Selain itu, melalui Zurich Entrepreneurship Program, siswa juga mendapatkan paparan langsung mengenai dunia profesional melalui sesi pembelajaran bersama para sukarelawan Zurich. Pengalaman tersebut membantu peserta memahami gambaran dunia kerja sekaligus membangun kepercayaan diri sejak dini.
Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memperluas dampak program bagi generasi muda.
“Tahun pertama fase ini menunjukkan bahwa dampak positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi. Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerja bersama, semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang relevan dan peluang untuk membangun masa depan mereka,” katanya.
Ke depan, fase kedua Zurich Entrepreneurship Program akan terus diperluas hingga 2028 dengan target menjangkau lebih banyak siswa di berbagai daerah. Program ini juga akan memperkuat kapasitas guru dan keterlibatan sukarelawan untuk membantu melahirkan generasi muda yang lebih percaya diri, memiliki keterampilan yang relevan, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja di masa depan.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post