youngster.id - Investasi pada sektor transisi energi di Asia Tenggara terus mengalami percepatan. Laporan terbaru dari Tracxn mengungkapkan bahwa sebanyak 258 startup di kawasan ini telah berhasil mengamankan pendanaan ekuitas dengan total mencapai US$1,8 miliar.
Meskipun angka ini menunjukkan gairah investasi yang tinggi, terdapat ketimpangan distribusi modal yang signifikan. Investor terlihat jauh lebih meminati sektor panel surya (solar) dan kendaraan listrik (electric vehicles/EV) dibandingkan solusi penyimpanan energi dan efisiensi.
Dari total 2.043 perusahaan yang dipantau, sektor panel surya menjadi primadona dengan perolehan pendanaan sebesar US$1,1 miliar. Posisi kedua ditempati oleh industri kendaraan listrik yang meraih US$505 juta.
Sebaliknya, sektor penyimpanan energi hanya mengantongi US$119 juta, sementara solusi efisiensi energi hanya mendapatkan US$77 juta. Jika digabungkan, kedua sektor krusial untuk stabilitas jaringan listrik ini hanya menyerap sekitar 11% dari keseluruhan total pendanaan di Asia Tenggara.
“Secara geografis, Singapura masih menjadi pusat utama aliran modal hijau di kawasan. Sementara itu, negara dengan pasar berkembang seperti Indonesia dan Vietnam mencatatkan porsi yang lebih kecil, yang menunjukkan adanya kesenjangan akses modal di tingkat regional,” kata Tracxn, dikutip Senin (20/4/2026).
Laporan ini juga menyoroti bahwa pembiayaan proyek energi bersih berskala besar masih sangat bergantung pada dukungan negara. Dalam sepuluh tahun terakhir, China telah menyuntikkan dana lebih dari US$2,7 miliar, sedangkan Jepang berkontribusi sekitar US$2,45 miliar melalui inisiatif seperti Asia Zero Emissions Community (AZEC).
Rendahnya investasi di bidang penyimpanan dan efisiensi energi disebabkan oleh tantangan struktural, termasuk persepsi risiko tinggi dan profitabilitas yang dianggap lebih rendah oleh lembaga keuangan.
Namun, para ahli memperingatkan adanya risiko jangka panjang. Dengan permintaan listrik di ASEAN yang diprediksi melonjak 41% pada tahun 2030, minimnya infrastruktur penyimpanan energi dapat mengganggu stabilitas jaringan listrik di masa depan. Tanpa alokasi modal yang lebih seimbang, Asia Tenggara berisiko memiliki sistem energi yang berfokus pada produksi surya namun rapuh dari sisi distribusi dan ketahanan. (*AMBS)



















Discussion about this post