youngster.id - Transformasi digital Indonesia ditegaskan bukan sekadar soal teknologi, melainkan perubahan pola pikir (mindset) untuk menciptakan solusi yang relevan bagi masyarakat. Hal ini menjadi bahasan utama dalam Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 bertema “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital” di Jakarta.
Dalam sesi tersebut, Co-Founder Flip, Rafi Putra Arriyan, membagikan perjalanan sukses Flip dalam membangun inovasi yang berakar pada kebutuhan nyata pengguna. Menurutnya, inovasi yang berkelanjutan lahir dari pemahaman mendalam terhadap masalah finansial yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat sehari-hari.
Rafi menekankan bahwa solusi Flip bermula dari satu masalah finansial yang paling sederhana namun krusial, yaitu biaya transfer antarbank. Dengan semangat start small mindset, Flip berhasil mengubah masalah tersebut menjadi layanan yang kini telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di seluruh Indonesia.
Flip adalah startup fintech layanan transfer antar bank gratis, yang didirikan pada tahun 2015 oleh Rafi Putra Arriyan, Luqman Sungkar, dan Ginanjar Ibnu Solikhin. Selain menyediakan solusi transfer uang (domestik/internasional), Flip juga menerima pembayaran (payment gateway) untuk perusahaan atau UKM.
“Flip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan pengguna dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain, mulai dari cara mereka berbelanja hingga menabung,” jelas Rafi dalam sesi bertajuk “Turning Mindset into Real-World Innovation”, dikutip Selasa (5/5/2026).
Saat ini, solusi yang ditawarkan Flip telah berkembang pesat melampaui transfer antarbank gratis, mencakup pembayaran berbagai kebutuhan, transfer uang ke luar negeri, hingga integrasi dengan berbagai ekosistem digital di tanah air. Pertumbuhan ini mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan keuangan yang praktis, transparan, dan relevan.
Sejalan dengan praktik yang dilakukan Flip, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, mengingatkan pentingnya menyiapkan talenta digital yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Di tengah disrupsi AI, talenta muda Indonesia dituntut memiliki keterampilan yang tidak mudah direplikasi oleh mesin, seperti creative thinking, analytical thinking, dan kepemimpinan.
“Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya. Kita tidak boleh terjebak pada hype. Jika tidak ingin tergantikan oleh AI, kita harus melatih keterampilan yang berpusat pada manusia,” tegas Prof. Stella.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menambahkan bahwa melalui inisiatif PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026, Bank Indonesia bersama OJK dan mitra strategis berkomitmen membekali talenta muda dengan kompetensi teknis dan kewirausahaan. Program ini diharapkan menjadi momentum bagi generasi muda untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) bagi kepentingan yang bermanfaat bagi ekonomi nasional.
Pengalaman Flip membuktikan bahwa inovasi yang sukses bukan sekadar konsep yang terlihat canggih, melainkan keberanian dan kerendahan hati untuk terus memberikan solusi yang relevan terhadap masalah yang terus berubah di pasar.
STEVY WIDIA
