youngster.id - Pasar modal ventura (venture capital) di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data terbaru, nilai kesepakatan investasi di tanah air merosot tajam dari puncaknya sebesar US$5,4 miliar pada paruh kedua 2021 menjadi kurang dari US$100 juta pada semester pertama 2025. Penurunan signifikan ini memicu kekhawatiran mengenai kepercayaan investor global terhadap ekosistem startup nasional.
Partner Vertex Ventures, Gary Khoeng, menyebutkan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang mengikis kepercayaan investor. Pertama, munculnya kasus pelanggaran tata kelola (governance) dan integritas, termasuk skema penipuan kompleks di sektor fintech dan agritech yang menyebabkan kerugian besar. Salah satunya, kasus eFishery, yang melibatkan skema penipuan selama bertahun-tahun dan merugikan banyak investor besar.
Kedua, melemahnya kondisi makroekonomi yang menekan daya beli kelas menengah, di mana populasi kelas menengah menyusut dari 57 juta jiwa pada 2019 menjadi sekitar 48 juta jiwa pada 2024. Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar dalam kemampuan belanja antarsegmen konsumen.
Ketiga, minimnya rekam jejak keluar (exit) yang sukses melalui IPO, tercermin dari harga saham GoTo yang merosot hingga menyisakan sekitar 16% dari harga perdana saat melantai di bursa tahun 2022. Situasi ini membuat banyak investor, termasuk investor global, mempertanyakan kembali keyakinan mereka terhadap prospek pasar startup Indonesia.
“Meski kondisi pasar sedang lesu, peluang investasi tetap tersedia melalui kalibrasi ulang strategi yang berfokus pada kekuatan fundamental Indonesia,” kata Gary, seperti dilansir Business Times, Senin (16/2/2026)
Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi hampir 300 juta jiwa dan usia median 30 tahun, sektor ritel konsumsi, layanan keuangan, dan kesehatan masih menjadi daya tarik utama. Sektor konsumsi, khususnya merek lokal (direct-to-consumer) di bidang perawatan pribadi dan makanan minuman yang mampu melayani segmen berpenghasilan rendah, terbukti tetap bertahan meski daya beli melandai.
Di sektor keuangan, terjadi pergeseran tren dari pinjaman tanpa agunan (unsecured lending) yang berisiko tinggi menuju solusi keuangan yang lebih bertanggung jawab seperti pegadaian dan pinjaman terjamin (secured lending). Model bisnis ini dinilai memiliki neraca keuangan yang lebih solid dan risiko fraud yang minimal karena bekerja sama lebih erat dengan ekosistem perbankan tradisional.
Selain itu, sektor kesehatan yang masih memiliki rasio tempat tidur rumah sakit di bawah rata-rata regional menawarkan peluang pertumbuhan besar. Modernisasi rumah sakit dan klinik spesialis (seperti kesehatan wanita dan estetika) mulai menarik perhatian investor institusi, seiring dengan reformasi kesehatan dan sistem jaminan kesehatan nasional yang semakin luas cakupannya.
Untuk mengembalikan siklus pasar ke arah positif (bull cycle), diperlukan tiga faktor kunci: katalis teknologi yang kuat seperti kecerdasan artifisial (AI), dukungan berkelanjutan bagi startup tahap awal (seed level), serta peran pemerintah dalam menetapkan sektor inti sebagai jangkar inovasi.
“Meski tengah berada dalam siklus pasar yang sulit, pasar startup Indonesia dinilai belum kehilangan seluruh daya tariknya. Di tengah siklus bearish ini, masih terdapat kantong-kantong peluang investasi yang bisa digarap sebelum kepercayaan investor pulih sepenuhnya dan siklus bullish berikutnya dimulai,” pungkasnya. (*AMBS)
