youngster.id - Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi fokus bagi perusahaan ekuitas swasta (Private Equity/PE) dan modal ventura (Venture Capital/VC). Laporan riset terbaru dari Accordion dan Ramp mengungkapkan peta persaingan adopsi AI di sektor korporasi. Hasilnya, perusahaan yang didukung oleh modal Private Equity mengadopsi alat AI berbayar jauh lebih cepat dibandingkan pasar umum, meski masih berupaya mengejar perusahaan berbasis Venture Capital.
Data menunjukkan bahwa 58,8% bisnis yang didukung Private Equity telah memiliki langganan AI berbayar. Angka ini melonjak melampaui bisnis umum yang hanya sebesar 40,8%. Namun, perusahaan rintisan yang didukung Venture Capital masih memimpin di depan dengan tingkat adopsi mencapai 77,4%.
CEO Accordion, Nick Leopard, menyebutkan bahwa celah ini terjadi karena perbedaan mindset. “Jika filosofi VC adalah ‘move fast and break things’ (bergerak cepat dan mendobrak), maka filosofi perusahaan berbasis PE adalah ‘bergerak dengan perhitungan dan melakukan perbaikan’,” kata Leopard, Rabu (8/4/2026).
Riset ini mengidentifikasi adanya celah lebar antara instruksi investor (sponsor) dengan eksekusi di level manajemen keuangan. Sebanyak 98% sponsor PE mengaku telah menginstruksikan para Chief Financial Officer (CFO) mereka untuk memprioritaskan AI. Namun, kenyataannya kurang dari satu dari tiga CFO yang telah menerapkannya secara berarti.
Faktor ketidakpastian menjadi penghambat utama. Hampir 68% CFO yang disurvei mengaku tidak tahu harus mulai dari mana atau kurang memiliki kejelasan mengenai cara menjalankan inisiatif AI dalam operasional mereka.
Bagi perusahaan di bawah naungan Private Equity, adopsi AI bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan performa dalam periode investasi yang terbatas. Riset menyebutkan AI mampu memberikan dampak finansial yang terukur, antara lain: mempercepat siklus penutupan laporan bulanan hingga 30%, menurunkan Days Sales Outstanding (DSO) hingga 15%, dan meningkatkan akurasi peramalan (forecasting) dan analisis yang berdampak pada pertumbuhan EBITDA.
Dalam satu studi kasus perusahaan industri, implementasi alur kerja perencanaan keuangan berbasis AI berhasil meningkatkan akurasi forecast sebesar 35% dan mengurangi modal kerja sebesar 8% hanya dalam satu kuartal.
Tingkat penggunaan AI masih belum merata di berbagai industri. Sektor Teknologi, Media, dan Telekomunikasi (TMT) memimpin dengan tingkat adopsi 76%, sementara sektor ritel dan konsumsi baru menyentuh 39%.
Menariknya, lonjakan tajam terjadi pada sektor tradisional. Sektor manufaktur melompat dari 27% ke 52% dalam setahun terakhir, diikuti sektor kesehatan dan sains yang naik dari 23% menjadi 48%.
“Meskipun perangkat lunak sudah dibeli, banyak perusahaan masih menghadapi kendala mendasar. Sistem ERP yang terfragmentasi, definisi data yang tidak konsisten, serta tata kelola data yang lemah menjadi penghambat AI menghasilkan output yang berguna,” tambahnya.
Laporan yang disusun berdasarkan data transaksi platform Ramp dan survei terhadap 400 sponsor PE serta CFO ini menyimpulkan bahwa tantangan saat ini bukan lagi soal “apakah” harus mengadopsi AI, melainkan “bagaimana” mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja inti keuangan dan operasional secara luas. (*AMBS)


















Discussion about this post