youngster.id - Artificial intelligence (AI) semakin mampu memahami perintah, membuat konten, menulis kode, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, kemampuan tersebut umumnya masih bergantung pada konteks yang tersedia dalam satu sesi. Ketika percakapan berakhir, AI tidak selalu memiliki pemahaman mengenai aktivitas pengguna sebelumnya.
Kondisi tersebut coba diubah Memories.ai melalui Luci, agen AI personal yang dirancang untuk melihat, mengingat, dan menjalankan tugas bagi pengguna. Dalam ajang Snapdragon Summit 2026, Memories.ai mengumumkan Luci kini dapat beroperasi di berbagai perangkat berbasis platform Snapdragon, mulai dari PC, smartphone hingga smart glasses.
Founder Memories.ai, Shawn Shen, mengatakan kemampuan tersebut dimungkinkan oleh pemrosesan AI langsung di perangkat atau on-device. Pendekatan ini memungkinkan Luci memahami dan menyimpan memori secara privat di perangkat, sementara komputasi cloud digunakan untuk menghubungkan konteks antarperangkat ketika dibutuhkan.
“Terobosan ini dapat terwujud berkat kapabilitas pemrosesan di dalam perangkat itu sendiri. Prosesor Snapdragon memungkinkan Luci memahami dan menyimpan memori secara privat langsung di dalam perangkat (on-device). Keunggulannya, teknologi komputasi cloud hanya berfungsi untuk menghubungkan konteks antarperangkat saat dibutuhkan, bukan untuk menyimpan atau memproses data pribadi pengguna. Bagi kami, inilah terobosan yang sebenarnya,” ungkap Shawn dikutip Jumat (25/9/2026).
Sebelumnya, Luci telah diperkenalkan pada perangkat desktop dengan kemampuan mempelajari dan mengingat aktivitas pengguna ketika bekerja menggunakan PC. Kini, kemampuan tersebut diperluas sehingga memori dapat tersinkronisasi di berbagai perangkat yang digunakan pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, informasi yang ditangkap melalui smart glasses, catatan yang dibuat melalui smartphone, hingga dokumen yang dibuka menggunakan PC dapat menjadi bagian dari satu sistem memori pribadi. Pengguna kemudian dapat mengakses kembali konteks tersebut dari perangkat lain ketika dibutuhkan.
Kemampuan ini menjadi salah satu pembeda Luci dari AI yang hanya mengandalkan percakapan. Sistem tersebut dirancang untuk memahami konteks dari aktivitas nyata pengguna, seperti apa yang dilihat, didengar, atau dikerjakan, sehingga AI dapat memiliki pemahaman yang lebih berkelanjutan mengenai aktivitas pengguna.
Di balik kemampuan tersebut terdapat on-device pipeline Luci. Teknologi OmniCaptioner mengubah informasi yang dilihat dan didengar perangkat menjadi deskripsi momen yang terstruktur. Selanjutnya, OmniRetriever mengindeks deskripsi tersebut ke dalam sistem memori pribadi sehingga informasi dapat dicari kembali.
Pemrosesan visual yang membutuhkan komputasi besar dilakukan ketika proses perekaman awal. Setelah itu, proses seperti pengindeksan, pencarian informasi, hingga penyajian jawaban dapat dilakukan secara lebih ringan menggunakan Qualcomm Hexagon NPU.
Menurut Memories.ai, pendekatan tersebut memungkinkan memori aktivitas pengguna selama satu hari penuh hanya membutuhkan ruang penyimpanan beberapa gigabita. Data indeks tersebut juga tetap berada di perangkat dan tidak keluar dari perangkat.
Kemampuan AI yang berjalan langsung di perangkat sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang lebih personal dengan tetap mempertahankan kendali pengguna atas data. Hal ini menjadi semakin relevan ketika AI mulai digunakan untuk memahami aktivitas pengguna di berbagai perangkat secara terus-menerus.
Vice President, Product Management, Qualcomm Technologies, Inc., Vinesh Sukumar, mengatakan AI generasi berikutnya perlu menggabungkan kemampuan personalisasi, performa, dan privasi.
“Di Qualcomm Technologies, kami meyakini bahwa generasi AI berikutnya perlu menghadirkan pengalaman yang semakin personal, kemampuan yang mumpuni, sekaligus mengutamakan privasi. Kehadiran Luci dari Memories.ai menunjukkan bagaimana AI on-device dapat memahami konteks dan memberikan bantuan cerdas, sekaligus menjaga kendali atas data personal tetap berada di tangan pengguna,” ujar Vinesh.
Integrasi Luci dengan ekosistem Snapdragon membuat pengalaman tersebut tidak lagi terbatas pada satu perangkat. AI dapat mengikuti konteks pengguna ketika berpindah dari PC ke smartphone maupun smart glasses, dengan sistem memori yang dirancang untuk tetap terhubung.
Perkembangan ini menunjukkan arah baru personal AI, ketika kemampuan AI tidak hanya diukur dari seberapa baik sistem menjawab pertanyaan, tetapi juga dari kemampuannya memahami konteks dan mengingat aktivitas pengguna dari waktu ke waktu.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post