youngster.id - Indonesia kini tengah agresif memposisikan diri sebagai pemimpin pasar (pacesetter) dalam pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) di Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh komitmen para pelaku bisnis di tanah air yang secara proaktif berinvestasi pada berbagai kapabilitas teknologi AI.
Berdasarkan survei regional terbaru bertajuk The Business Times Insights: Asean Intelligence 2026, sebanyak 62% perusahaan di Indonesia dikategorikan sebagai kelompok “First Movers” atau pengadopsi awal yang agresif. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas, mengungguli negara tetangga seperti Thailand (55%), Malaysia (46%), dan Singapura (36%).
Survei yang dilakukan pada Februari 2026 oleh media The Business Times bersama firma riset Kantar ini melibatkan lebih dari 500 pemimpin bisnis di negara anggota Asean-6 (Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam).
Secara regional, lanskap adopsi AI terbagi menjadi tiga kategori: Pertama, First Movers (45%): Bisnis yang merasakan tekanan kuat untuk bertransformasi dan proaktif berinvestasi di berbagai kapabilitas AI. Kedua, Pragmatic Optimisers (42%): Bisnis yang menyadari potensi AI tetapi mengatur tempo investasi pada inisiatif yang sudah terbukti dampaknya. Ketiga, Cautious Traditionalists (13%): Bisnis yang merasa urgensinya rendah dan berinvestasi secara konservatif.
Singapura sendiri berada di posisi menengah dengan 36% perusahaan sebagai First Movers dan 47% sebagai Pragmatic Optimisers. Para ahli menilai pendekatan Singapura cenderung lebih hati-hati karena ketatnya standar tata kelola dan kepatuhan (compliance) di sektor utama mereka seperti finansial dan kesehatan.
Sebaliknya, Indonesia menunjukkan sinyal pertumbuhan yang sangat menjanjikan. Vivek Luthra, AI and Data Lead Accenture Asia-Pasifik, menyoroti bahwa ambisi top-down dari para pemimpin perusahaan di Indonesia menjadi fondasi kuat, di mana mayoritas dari mereka berkomitmen mempersiapkan tenaga kerja untuk menghadapi era Generative AI dalam tiga tahun ke depan.
Selain itu, Hanno Stegmann, Managing Director & Partner BCG X, menambahkan bahwa penggunaan AI di tingkat akar rumput (grassroots) Indonesia sangat masif, menduduki peringkat kedua tertinggi di Asia-Pasifik setelah India.
Tingginya adopsi AI di Indonesia salah satunya dipicu oleh besarnya kebutuhan akan infrastruktur AI yang berdaulat (sovereign AI). Langkah ini diwujudkan melalui Sahabat AI, sebuah inisiatif AI nasional hasil kolaborasi antara Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), GoTo Group, Nvidia, dan AI Singapore.
Berbeda dengan Large Language Model (LLM) arus utama seperti ChatGPT atau Gemini, Sahabat AI dilatih menggunakan data dan dialek lokal Indonesia sehingga lebih memahami nuansa budaya setempat.
“Adopsi teknologi ini sudah bergerak jauh melampaui tahap eksperimen,” ungkap Chirag Sukhadia, Chief Data and AI Officer IOH.
Sebagai penyedia infrastruktur utama, IOH telah mengintegrasikan model ini ke dalam operasional harian mereka, khususnya di bidang SDM (Human Resources) dan penjualan (sales). Penggunaan AI ini terbukti berhasil mengoptimalkan alokasi belanja modal (capex) IOH hingga 22% dan diproyeksikan mampu memberikan tambahan pendapatan (EBITDA) sebesar US$ 200 juta hingga US$ 300 million dalam tiga tahun ke depan.
Sukhadia menambahkan bahwa dari perspektif perusahaan, langkah ini memberikan tingkat pengembalian investasi (ROI) yang jauh lebih baik.
Sejatinya, selain proyek bahasa lokal Sahabat AI, komitmen kedaulatan teknologi di tanah air sebenarnya berpusat pada program makro Pemerintah. Indonesia telah menetapkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) 2020–2045 serta Peta Jalan AI Nasional 2026–2030 yang dirancang oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Inisiatif AI nasional yang digawangi oleh pemerintah ini secara taktis terbagi ke dalam empat fokus utama. Pertama, Peta Jalan AI dan Regulasi Tata Kelola (2026–2030): Pemerintah menempatkan Peraturan Presiden (Perpres) Peta Jalan AI dan Etika Keamanan AI sebagai pedoman lintas sektor. Regulasi ini memastikan adopsi AI berjalan etis, transparan, dan mematuhi perlindungan data pribadi. Kedua, Fokus Sektor Prioritas: Pengembangan diarahkan pada 10 bidang utama, dengan penekanan khusus pada Ketahanan Pangan (modernisasi pertanian & perikanan), Kesehatan (optimalisasi layanan medis & diagnostik), serta Pendidikan & Reformasi Birokrasi (pelayanan publik berbasis otomatisasi cerdas).
Ketiga, Infrastruktur dan Komputasi: Pemerintah menargetkan pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi canggih dengan investasi triliunan rupiah untuk mengakomodasi pemersoson AI berskala besar. Keempat, Pusat Riset dan Pengembangan Talenta: Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri (seperti KORIKA), inisiatif ini bertujuan melahirkan SDM yang siap dengan keterampilan digital masa depan dan mendorong inovasi ekosistem startup lokal.
Ambisi top-down dari pemerintah tersebut disambut sinergis oleh pihak swasta melalui berbagai program pelatihan talenta, pembinaan startup, hingga penyediaan infrastruktur komputasi berskala masif.
Beberapa gerakan taktis yang kini berjalan di antaranya adalah Program Indonesia BerdAIa dari Google Cloud, yang bertujuan mengembangkan dan memberdayakan ratusan startup lokal selama lima tahun.
Di sisi infrastruktur, Lintasarta (grup Indosat) menginisiasi program Laskar AI & GPU Merdeka. Program ini memadukan pelatihan talenta digital nasional dengan penyediaan fasilitas GPU Merdeka sebagai infrastruktur komputasi pendukung utama operasional AI di dalam negeri.
Selain itu, muncul pula program AI Talent Factory yang lahir dari kolaborasi lintas sektor untuk mencetak ribuan engineer AI. Para talenta ini dipersiapkan secara khusus untuk memecahkan berbagai masalah nasional yang mendesak, salah satunya memprogram teknologi terkini untuk mendeteksi dan memberantas judi online.
Meskipun adopsi AI diprediksi melonjak, survei mencatat bahwa biaya masih menjadi hambatan terbesar bagi mayoritas negara di Asia Tenggara, kecuali Vietnam yang lebih terkendala oleh masalah sistem warisan (legacy infrastructure).
Di sisi lain, sebanyak 56% responden mengantisipasi adanya disrupsi besar pada fungsi operasional dan manufaktur di akhir tahun 2026. Peran seperti pengawas kualitas, perencana kebutuhan logistik, hingga analis pengadaan akan terdampak. Namun, para ahli menekankan bahwa fenomena ini lebih mengarah pada transformasi peran ketimbang pemangkasan lapangan kerja secara mutlak (job elimination).
Meski mencatat tren positif, BCG X mengingatkan bahwa Indonesia masih harus mengatasi beberapa tantangan fundamental, mulai dari kesiapan data (data readiness), infrastruktur AI, hingga kerangka tata kelola (governance frameworks) sebelum sepenuhnya dinobatkan sebagai pelopor utama di lanskap AI global. (*AMBS)
