youngster.id - Perkembangan teknologi digital ternyata ikut membuka celah baru bagi para pelaku penipuan online. Tidak lagi sekadar menggunakan foto palsu atau rekaman video, kini modus fraud semakin canggih dengan memanfaatkan deepfake, perangkat tiruan, hingga manipulasi lokasi demi menembus sistem verifikasi digital.
Melihat ancaman tersebut VIDA, perusahaan identitas digital dan fraud prevention di Indonesia, meluncurkan ID FraudShield. Solusi ini menggabungkan verifikasi biometrik dengan analisis perangkat serta deteksi fraud secara real-time dalam satu integrasi.
“Untuk menangani metode penipuan ini, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,” kata Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA pada Rabu (6/5/2026) di Jakarta.
Niki menjelaskan, ID FraudShield bekerja melalui dua engine utama yang berjalan secara bersamaan.
Engine pertama adalah Biometric Liveness Detection yang bertugas memastikan keberadaan manusia asli sekaligus mencegah deepfake, spoofing, dan screen replay.
Sementara engine kedua didukung platform risk intelligence dari Sardine dengan visibilitas lebih dari 5,4 miliar profil perangkat global. Sistem ini menganalisis perangkat, perilaku pengguna, jaringan, lokasi, hingga pola aktivitas mencurigakan secara real-time.
Dari proses analisis tersebut, sistem akan memberikan skor risiko mulai dari low risk hingga critical risk dalam setiap sesi verifikasi.
“Teknologi ini memiliki beberapa lapisan perlindungan utama, mulai dari biometric liveness, device intelligence, behavioral analytics, network & location analysis, rule engine, hingga ID Graph untuk mendeteksi sindikat fraud online dan synthetic identity,” ungkapnya.
Menurut Niki, ID FraudShield dikembangkan untuk membantu sektor keuangan menghadapi ancaman fraud digital yang semakin kompleks. Solusi ini ditujukan untuk berbagai industri seperti perbankan, multifinance, pinjaman digital, asuransi, hingga platform pembayaran digital.
Selain mempercepat deteksi fraud, solusi tersebut juga diklaim tetap menjaga pengalaman pengguna dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Kami membangun solusi ini karena melihat sendiri bagaimana penipuan bisa lolos dari liveness tanpa terdeteksi. Lewat teknologi ini, kami ingin membantu industri mendeteksi fraud yang sebelumnya tidak terlihat,” pungkasnya.
Peluncuran ini turut mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI), yang menilai ancaman scam digital di Indonesia semakin serius.
“Sebanyak 65% masyarakat Indonesia menerima upaya scam setidaknya sekali dalam seminggu, baik melalui email, SMS, WhatsApp, panggilan telepon, maupun media sosial,” ucap Edwin Hidayat Abdullah dari Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi RI pada acara peluncuran tersebut.
Menurut Edwin, tingginya angka penipuan digital tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi, hingga perusahaan teknologi identitas digital untuk memperkuat perlindungan masyarakat.
STEVY WIDIA
