youngster.id - Kasus gagal jantung di Indonesia masih mencatatkan angka mortalitas yang tinggi, di mana 30% pasien terpaksa kembali dirawat di rumah sakit akibat perburukan kondisi. Menjawab tantangan klinis tersebut, Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengembangkan NAVI-HF (Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure), sebuah alat portabel berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi penumpukan cairan (kongesti) paru secara cepat dan objektif.
Inovasi yang diuji klinis di Primaya Hospital Tangerang ini berbeda dengan stetoskop konvensional, NAVI-HF merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan selama kurang lebih satu menit. Rekaman tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi apakah pasien masih memiliki tanda-tanda kongesti paru yang berisiko menyebabkan perburukan gagal jantung setelah pulang dari rumah sakit.
Berdasarkan uji klinis terhadap 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan akurasi tinggi mencapai 86%, sensitivitas 91%, dan spesifisitas 82% jika dibandingkan dengan alat penunjang mahal seperti Lung Ultrasound.
Data penelitian lanjutan selama enam bulan membuktikan pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi untuk rawat ulang.
“NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI. Pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat dapat dikenali lebih awal sehingga terapi dapat disesuaikan sebelum terjadi komplikasi,” jelas dr. Rony, dikutip Rabu (15/7/2026).
Ke depan, teknologi ini diproyeksikan untuk mendukung pemantauan jarak jauh (home-based monitoring) dan telemedicine guna menurunkan beban biaya layanan kesehatan nasional.
HENNI S.



















Discussion about this post