VRetino Alat Pendeteksi Kebutaan Akibat Glukoma

Alat VRetino. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Elektro 2014 berhasil membuat alat canggih pendeteksi glukoma dengan nama VRetino.

Alat karya Ifsan Fauzi, Abdurrahman Faik, dan Hajar Indah ini hadir untuk mendeteksi dini kebutaan akibat penyakit glukoma dengan sistem pengukuran “Visual Evoked Potential” (VEP) yang menggunakan teknologi virtual reality sebagai stimulusnya.

“Hanya dengan cara melihat stimulus pada layar smartphone, sinyal otak yang terbentuk akan dibaca melalui rangkaian EEG yang telah dibuat. Selanjutnya, data hasil pembacaan sinyal otak akan dikirimkan dari EEG ke aplikasi android untuk diproses pada pemrosesan sinyal VEP. Kemudian, hasil pembacaan tersebut dapat terdeteksi pada P100, ” jelas Ifsan Fauzi salah satu tim mahasiswa pencipta VRetino kepada media mengatakan.

Dengan memiliki tiga komponen utama, yaitu EEG (sensor untuk akuisisi sinyal otak) yang dirancang sendiri menggunakan satu kanal, satu aplikasi android, dan layar stimulus (layar smartphone) yang diletakkan pada VRetino para pasien akan dengan mudah untuk menggunakannya.

Baca juga :   Bankir Khusus UKM Perlu Sertifikasi

Sebelumnya, VRetino sudah pernah diikut sertakan pada kompetisi IMERI 2018, sebuah kompetisi yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan skala nasional. Pada kompetisi IMERI ini VRetino berhasil melaju sampai tahap akhir sebelum babak final.

Proses pembuatan VRetino yang dilakukan dari November 2017 sampai April 2018 telah menghabiskan biaya sekitar 8 juta rupiah. Para mahasiswa ini berharap kedepannya alat ini dapat terus ditingkatkan kepresisiannya hingga mampu benar-benar diproduksi secara masal dan dipatenkan sebagai karya original di dunia medis.

Nama VRetino merupakan akronim dari Virtual Reality (VR) dan Retino. Keunggulan dari VRetino ini memiliki harga di bawah Rp 10 juta dan ukuran hanya 20x16x10 cm. Berbeda dengan system pengukuran VEP yang ada saat ini, harganya mencapai Rp 2,7 miliar dan berukuran sangat besar (tidak portabel).

Karena keunggulannya itu, memungkinkan masyarakat yang akan melakukan pengukuran VEP, khususnya masyarakan di tempat-tempat terpencil di Indonesia tidak perlu datang jauh-jauh ke rumah sakit mata besar berskala nasional. Tentunya efektifitas waktu dan penanganan dapat lebih dimaksimalkan dengan adanya alat ini.

Baca juga :   Bekraf Gandeng ITB Kembangkan Game dan Aplikasi Lokal

 

FAHRUL ANWAR