Aurows, Robot Pintar Pensteril Bakteri

Tim Mahasiswa Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya membuat robot AUROWS. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Tim Mahasiswa Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya membuat robot pintar pensteril bakteri. Robot bernama Aurows ini juga dapat membawa sampah klinis dan mengurangi penyebaran infeksi nosokomial di rumah sakit.

Tim ini terdiri dari Akhmad Afrizal Rizqi, Agus Abdul Rozaq, Rafif Nadhif Naufal, Abdul Hamid, dan Inas Pramitha Abdini Haq. Mereka menyebut nama Aurows adalah singkatan dari Automation Robotic Waste Transporter & Sterilizer.

“Robot ini dapat mengambil, memindahkan, dan melakukan sterilisasi pada tempat sampah atau limbah medis di rumah sakit,” kata Akhmad yang dilansir Antara, Minggu C(18/6/2017) di Surabaya.
Menurut Akhmad, pertimbangan utama mereka berinisiatif berkreasi membuat robot AUROWS ini, antara lain adanya infeksi nosokomial yang menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia.

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat dan berkembang saat seseorang berada di lingkungan rumah sakit. Infeksi ini disebabkan bakteri patogen, yang diantaranya berasal dari sampah klinik rumah sakit.

“Di Indonesia angka kematian pasien yang tertular infeksi nosokomial ini tergolong masih tinggi, yakni mencapai 12 hingga 52 persen. Padahal, infeksi nosokomial ini bisa menyebabkan pasien terkena bermacam-macam penyakit, dan setiap penyakit punya gejala berbeda pula,” ujar Akhmad.

Beberapa penyakit yang paling sering terjadi akibat infeksi nosokomial adalah infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, pneumonia, infeksi pada luka operasi.

“Banyak hal bisa mempengaruhi penyebaran nosokomial salah satunya limbah medis rumah sakit, padahal memindahkan tempat sampah itu masih menggunakan tenaga manusia, jadi ini sangatlah berbahaya karena seseorang itu akan rentan terserang infeksi nosokomial,” ucap mahasiswa D3 Otomasi Sistem Instrumentasi ini.

Akhmad menjelaskan, robot ini diberi kecerdasan buatan untuk dapat berjalan secara otomatis serta dilengkapi beberapa sensor yang dapat terhubung langsung dengan komputer, sehingga memudahkan pengguna atau petugas medis dalam memantau pergerakan robot dan membunuh bakteri dengan ultraviolet LED.

“Sehingga dapat meningkatkan efek “germisidal irradation” yang dapat membunuh bakteri hingga 100 persen dengan menggunakan panjang gelombang 365 dan hanya memerlukan daya sebesar 15 megawatt,” tutur dia.

Mereka berharap dengan adanya robot ini dapat dijadikan alat yang dapat digunakan petugas medis untuk membantu proses pemindahan sampah medis serta sterilisasi pada sampah klinis, sehingga dapat meminimalkan penyebaran infeksi nosokomial di rumah sakit di Indonesia dan mewujudkan Indonesia mandiri instrumentasi medis.

STEVY WIDIA