youngster.id - Industri aset kripto global diguncang oleh dugaan insiden peretasan terbesar dalam sejarah yang menimpa bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan, Binance. Perusahaan mengonfirmasi adanya potensi celah keamanan menyusul pergerakan dana mencurigakan yang diperkirakan mencapai US$6,3 miliar (sekitar Rp114 triliun).
Meskipun nilai pencurian potensial tersebut mencetak rekor tertinggi—melampaui insiden peretasan Bybit senilai US$1,5 miliar pada Februari 2025—pihak manajemen memastikan bahwa dana pengguna secara keseluruhan tetap aman dan perusahaan berkomitmen menanggung seluruh kerugian.
Co-CEO Binance, Yi He, menyatakan bahwa tim internal bergerak cepat melakukan investigasi keamanan mendalam serta berkoordinasi erat dengan aparat penegak hukum dan para pelaku industri blockchain.
“Deposit dan penarikan sementara dihentikan selagi tim kami melakukan pemeriksaan keamanan, membekukan dana, dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum,” ujar Yi He dalam pernyataan resminya, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Pembekuan Aset Rp40 Triliun dan Respons Cepat Penerbit Stablecoin
Sebelum pengumuman resmi dirilis bursa, analis blockchain telah mendeteksi adanya transaksi tidak wajar pada dompet (wallet) yang dikaitkan dengan peretas. Berdasarkan data awal dari Arkham Intelligence dan Chainalysis, portofolio aset yang dieksploitasi mencakup hampir US$1,5 miliar dalam Bitcoin (BTC), US$900 juta dalam Ethereum (ETH), serta sekitar US$1,4 miliar dalam stablecoin USDT dan USDC. Pelaku juga sempat terpantau memindahkan aset melalui bursa terdesentralisasi (DEX) Uniswap serta memanfaatkan platform peminjaman Aave.
Menanggapi darurat keamanan ini, konsorsium industri kripto bergerak sigap melakukan mitigasi on-chain. Langkah cepat ini diawali oleh Tether, di mana sang CEO, Paolo Ardoino, mengonfirmasi bahwa perusahaannya telah membekukan hampir US$1,57 miliar token USDT yang teridentifikasi terkait peretasan.
Langkah serupa turut diambil oleh Circle, dengan CEO Jeremy Allaire yang menyatakan bahwa perusahaannya telah membekukan lebih dari US$800 juta dalam token USDC. Secara keseluruhan, Binance mengonfirmasi bahwa aksi kolektif ekosistem kripto berhasil membekukan sekitar US$2,54 hingga US$3 miliar aset di jaringan (on-chain) guna membatasi ruang gerak peretas.
Pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), turut angkat bicara melalui akun media sosial X. Meskipun tidak lagi aktif mengelola operasional harian bursa, sebagai pemegang saham ia menegaskan dukungannya terhadap perlindungan penuh hak-hak pengguna.
“Dana pengguna aman. Ini memang terlihat seperti peretasan terhadap Binance. Saya tidak lagi mengelola Binance, tetapi sebagai pemegang saham, saya berharap seluruh dana pengguna akan diganti sepenuhnya,” tegas CZ.
Hingga berita ini diturunkan, investigasi mendalam terkait metode eksploitasi dan identitas pihak di balik serangan siber masif ini masih terus berlangsung. (*AMBS)

















Discussion about this post