youngster.id - Infrastruktur fisik dan digital kini semakin menyatu dan saling bergantung, membentuk suatu sistem terintegrasi (system of systems) yang menuntut perubahan mendasar dalam cara negara dan organisasi merencanakan, membiayai, serta membangun aset strategis. Temuan ini diungkapkan dalam laporan terbaru Deloitte bertajuk 2026 Future of Infrastructure Survey.
Laporan tersebut menyoroti bahwa investasi infrastruktur diperkirakan meningkat pesat di berbagai kategori aset global, mulai dari jaringan digital, energi, air, utilitas, mobilitas, transportasi, hingga infrastruktur sosial. Namun, tantangan terbesar bagi para pemimpin saat ini bukan sekadar meningkatkan investasi, melainkan memastikan infrastruktur dapat dioperasikan dan diamankan sebagai satu kesatuan ekosistem.
Infrastructure Practice Leader Deloitte Consulting LLP, Kelly Marchese, menekankan bahwa model pembangunan tradisional yang terfragmentasi tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas zaman.
“Infrastruktur tidak lagi sekadar sekumpulan aset yang terisolasi. Survei terbaru kami menunjukkan bahwa sistem fisik dan digital telah menyatu, yang mengharuskan para pemimpin untuk berpikir melampaui model tradisional dan mengelola infrastruktur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung,” ujar Kelly, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Poin Utama Temuan Survei Infrastruktur Global 2026
Berdasarkan survei terhadap 985 pemimpin infrastruktur dari sektor pemerintah dan swasta di 21 negara, Deloitte memetakan sejumlah tantangan dan tren krusial. Dari aspek operasional, sebanyak 69% pemimpin memperkirakan peningkatan permintaan terhadap infrastruktur pintar dan saling terhubung, sementara 45% responden mengidentifikasi ketergantungan lintas sistem sebagai tantangan utama.
Dalam hal pembiayaan dan birokrasi, sebanyak 31% responden menyebut keterbatasan anggaran sebagai hambatan, dan 39% pemimpin secara global menyoroti kompleksitas regulasi serta perizinan yang memperlambat realisasi proyek.
Selain itu, dari sisi mitigasi risiko, sebanyak 60% responden dari sektor pemerintahan memprioritaskan keamanan siber sebagai area investasi utama, meskipun di sisi lain baru 33% yang menempatkan ketahanan iklim sebagai prioritas utama kendati 56% mengakui cuaca ekstrem sebagai ancaman terbesar.
Terakhir, adopsi kecerdasan buatan (AI) berkembang sangat pesat; sebanyak 61% responden telah menggunakan AI untuk pemeliharaan prediktif (predictive maintenance), dan adopsi otomatisasi berbasis AI diproyeksikan melonjak hingga 42% dalam tiga tahun ke depan guna mengatasi penundaan birokrasi dan mempercepat realisasi proyek infrastruktur skala besar.
Untuk menghindari risiko kegagalan sistemik (cascading failures), organisasi di sektor publik maupun swasta dituntut memperkuat koordinasi lintas sektor, menyederhanakan perizinan berbasis teknologi, serta mengatasi keterbatasan talenta di bidang AI dan keamanan siber guna membuka potensi ekonomi infrastruktur secara optimal. (*AMBS)
















Discussion about this post