youngster.id - Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, kini menjadi penggerak utama adopsi aset kripto di Indonesia. Fenomena ini terungkap dalam kegiatan Roadshow Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 yang berlangsung di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.
Berdasarkan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, sebanyak 93% responden telah familiar dengan aset kripto. Data internal Tokocrypto memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa lebih dari 60% pengguna platform mereka berasal dari kalangan muda, yakni 26,9% di rentang usia 18–24 tahun dan 35,1% di usia 25–30 tahun.
Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital (IAKD) OJK, Dino Milano Siregar, memberikan catatan kritis terkait tingginya partisipasi anak muda. Ia menilai keterlibatan Gen Z sering kali dipengaruhi oleh dinamika sosial di ruang digital dibandingkan pertimbangan investasi yang rasional.
“Partisipasi yang tinggi ini perlu kita lihat secara lebih kritis. Tidak semua didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh faktor social learning, peer influence, hingga fear of missing out atau FOMO yang sangat kuat,” ujar Dino, dikutip Kamis (16/4/2026).
Ia menegaskan pentingnya literasi agar investor muda tidak sekadar mengikuti tren, namun memahami risiko dan memiliki strategi keuangan yang bijak.
Business Development & Research Lead Tokocrypto, Indriana, mengungkapkan bahwa Gen Z memiliki risk appetite yang lebih tinggi dan cenderung cepat mengambil keputusan saat melihat peluang pasar. Sebagai digital-native, mereka sangat mengandalkan media sosial dan komunitas dalam berinvestasi.
“Gen Z cenderung ingin memiliki kendali langsung atas aset mereka dan menyukai transparansi. Namun, ketertarikan yang tinggi ini perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat agar keputusan investasi tidak menjadi terlalu reaktif terhadap tren,” jelas Indriana.
Menanggapi tantangan tersebut, Tokocrypto terus memperluas inisiatif edukasi melalui Tokocrypto Academy dan program OBRAS (Obrolan Komunitas) yang telah menjangkau lebih dari 200 ribu partisipan di 50 kota. Selain edukasi, fitur pendukung seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dan staking dihadirkan untuk mendorong strategi investasi jangka panjang yang lebih disiplin.
Kolaborasi antara OJK, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), dan pelaku industri melalui rangkaian BLK 2026 ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kripto yang sehat. Dengan literasi yang matang, dominasi generasi muda diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi digital Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing global. (*AMBS)
