GSMA Prediksi Ekonomi Seluler Asia Pasifik Tembus US$1,4 Triliun pada 2030

Ekonomi Seluler Asia Pasifik

GSMA Prediksi Ekonomi Seluler Asia Pasifik Tembus US$1,4 Triliun pada 2030 (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Kontribusi teknologi dan layanan seluler terhadap perekonomian Asia Pasifik diproyeksikan mencapai US$1,4 triliun pada tahun 2030. Nilai tersebut mencatatkan lonjakan hingga 40% dibandingkan dengan nilai kontribusi saat ini yang berada di angka US$1 triliun. Proyeksi pesat tersebut diungkapkan dalam laporan terbaru bertajuk Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang dirilis oleh GSMA.

Laporan tersebut menegaskan bahwa fase pertumbuhan digital di Asia Pasifik berikutnya tidak lagi hanya bergantung pada konektivitas dasar. Pertumbuhan ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintah, operator seluler, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas utama: lonjakan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), penurunan tingkat kepercayaan digital, kebutuhan infrastruktur tangguh, serta penguatan kedaulatan digital (digital sovereignty).

Head of Asia Pacific GSMA, Julian Gorman, menyatakan bahwa jaringan seluler kini menjadi fondasi utama bagi transformasi ekonomi dan sosial di seluruh wilayah.

“Industri seluler memainkan peran yang kian vital dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik. Jaringan seluler berfungsi sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh,” ujar Julian, dikutip Jum’at (7/8/2026).

5G, AI, dan IoT Mendorong Produktivitas Industri

Menurut temuan GSMA, integrasi teknologi 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) akan memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan di seluruh kawasan Asia Pasifik, terutama pada sektor manufaktur dan jasa. Kedua sektor ini diperkirakan akan menyumbang lebih dari separuh total manfaat ekonomi yang dihasilkan dari teknologi seluler tingkat lanjut.

Untuk mendukung lonjakan tersebut, operator seluler kini memperluas peran mereka melampaui penyedia jaringan dasar dengan membangun infrastruktur AI, layanan cloud, serta solusi korporat.

Selain lonjakan kontribusi ekonomi, laporan GSMA tersebut turut menyoroti sejumlah poin kunci terkait proyeksi ekosistem seluler di Asia Pasifik. Koneksi 5G diproyeksikan melonjak hingga mencapai 1,5 miliar koneksi pada tahun 2030, yang mewakili 50 persen dari total koneksi seluler di kawasan tersebut. Pertumbuhan ini didukung oleh komitmen para operator yang diperkirakan menanamkan belanja modal (capital expenditure) lebih dari US$200 miliar sepanjang periode 2025 hingga 2030.

Di samping telah membuktikan peran besarnya dalam menyerap 18 juta tenaga kerja, ekosistem seluler di Asia Pasifik masih menghadapi tantangan inklusi digital, di mana lebih dari 700 juta orang dewasa masih belum terhubung ke internet (offline) meskipun wilayah tempat tinggal mereka sudah terjangkau oleh jaringan mobile broadband.

Penguatan Kepercayaan dan Kedaulatan Digital

Pertumbuhan ekonomi seluler juga diiringi dengan meningkatnya perhatian terhadap keamanan digital dan kedaulatan data nasional. GSMA mencatat proporsi konsumen di kawasan ASEAN yang melaporkan pernah menjadi korban penipuan daring (scam) meningkat tajam dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.

Sebagai langkah responsif, operator seluler di Asia Pasifik meningkatkan investasi pada sistem keamanan dan pencegahan penipuan. Di saat yang sama, pemerintah di berbagai negara makin gencar berinvestasi pada infrastruktur AI lokal, lingkungan data yang aman, serta layanan cloud tepercaya guna memperkuat kedaulatan digital tanpa mengorbankan kerja sama lintas batas.

Seluruh isu strategis mengenai prediksi ekonomi seluler, adopsi AI, dan ketahanan jaringan ini akan dibahas secara mendalam dalam ajang M360 ASEAN 2026 di Kuala Lumpur, yang menghimpun para menteri, regulator, serta pemimpin industri dari seluruh negara anggota ASEAN. (*AMBS)



Exit mobile version