Industri Telekomunikasi Tak Lagi Hanya Soal Jaringan, Sustainability Kini Jadi Prioritas

ki-ka: Direktur Planning and Transformation Telkomsel Wong Soon Nam, Komisaris Utama Telkomsel Diaz F. M. Hendropriyono dan Direktur Utama Telkomsel Nugroho. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Perkembangan teknologi digital tidak hanya mendorong lahirnya berbagai inovasi baru, tetapi juga memunculkan tantangan terkait dampak lingkungan. Karena itu, sustainability kini menjadi salah satu fokus yang semakin diperhatikan industri telekomunikasi di tengah percepatan transformasi digital.

Langkah ini juga dilakukan Telkomsel melalui berbagai inisiatif keberlanjutan yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan pengembangan talenta digital. Upaya tersebut mencakup penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah elektronik, pengurangan emisi karbon, hingga pengembangan talenta yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital secara berkelanjutan.

“Telkomsel meyakini bahwa perusahaan tidak mungkin maju sendirian tanpa lingkungan dan masyarakat di sekitarnya ikut berkembang. Sebesar apa pun pertumbuhan yang kita capai, semuanya akan kehilangan makna jika lingkungan tidak terjaga dan kualitas hidup masyarakat ikut menurun,” kata Nugroho Direktur Utama Telkomsel pada Peluncuran Sustainability Report Telkomsel 2025, Jumat (5/6/2026) di Jakarta.

Nugroho mengungkapkan, hingga 2025 sebanyak 361 BTS Telkomsel telah memanfaatkan energi terbarukan melalui solar panel dan mikrohidro. Selain itu, seluruh limbah elektronik yang dihasilkan perusahaan telah dikelola melalui skema recycle, reuse, maupun refurbish untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Langkah keberlanjutan lainnya juga dilakukan melalui penggunaan kemasan kartu SIM berbahan kertas ramah lingkungan serta program penanaman lebih dari 12 ribu pohon mangrove sebagai bagian dari upaya pengurangan jejak karbon.

Selain menjaga keberlanjutan lingkungan, perusahaan juga menilai pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari sustainability jangka panjang. Karena itu, Telkomsel terus memperkuat kompetensi tenaga kerja melalui pengembangan keterampilan di bidang AI, cybersecurity, dan data science yang semakin dibutuhkan di era transformasi digital.

“Kami telah dan akan terus berinovasi dan berkembang agar kontribusi keberlanjutan Telkomsel semakin terasa, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas dampaknya,” ucap Nugroho lagi.

Sepanjang 2025, Telkomsel menjalankan berbagai program sosial berbasis digital yang menjangkau sekitar 90 ribu pelajar, UMKM, komunitas, dan talenta muda di berbagai daerah. Perusahaan juga terus memperkuat kompetensi tenaga kerja melalui pengembangan keterampilan di bidang AI, cybersecurity, dan data science yang semakin dibutuhkan di era transformasi digital.

Dampak keberlanjutan juga terus dirasakan lebih luas, bukan hanya bagi pelanggan, tetapi juga bagi mitra, pemerintah, dan ekosistem yang tumbuh bersama perusahaan. Direktur Planning & Transformation Telkomsel Wong Soon Nam mengatakan, sepanjang 2025, Telkomsel mendistribusikan kembali sekitar 83% dari total pendapatan ke pemerintah, shareholders, suppliers di rantai pasok, dan karyawan. Kontribusi ini didukung lebih dari 235 ribu mitra outlet ritel di berbagai daerah, yang turut membuka peluang bagi semua orang, setiap rumah, dan kegiatan bisnis.

“Perjalanan menuju bisnis berkelanjutan hanya bisa dijalankan melalui kolaborasi yang kuat dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami berharap dapat menjadi teladan, katalis, dan sumber inspirasi dalam menjaga bumi, membangun generasi masa depan yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Komisaris Utama Telkomsel Diaz F.M. Hendropriyono menilai, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan lebih besar dari dunia usaha.

“Perusahaan yang menerapkan praktik bisnis berkelanjutan akan memiliki nilai lebih di mata masyarakat dan semakin dipercaya oleh berbagai pemangku kepentingan, terutama generasi masa depan yang semakin peduli terhadap isu lingkungan,” kata Diaz yang juga menjabat Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

 

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version