youngster.id - Induk perusahaan TikTok, ByteDance, melaporkan adanya divergensi tajam antara pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas sepanjang tahun 2025. Meski pendapatan internasional melonjak hampir 50%, laba bersih perusahaan justru anjlok lebih dari 70% akibat pengeluaran agresif untuk pengembangan infrastruktur Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).
Bisnis internasional ByteDance kini berkontribusi lebih dari 30% terhadap total pendapatan perusahaan, naik dari 25% pada tahun 2024. Pendorong utama pertumbuhan global ini adalah ekspansi e-commerce melalui TikTok Shop, yang mencatatkan lonjakan penjualan hampir 70% secara year-on-year.
Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat, momentum tersebut tergerus oleh eskalasi investasi infrastruktur AI, terutama pada paruh kedua tahun lalu. ByteDance mengalokasikan sekitar US$20 miliar untuk belanja modal (capital expenditure) pada tahun 2025, dengan mayoritas dana dialokasikan untuk pengembangan AI.
Ambisi ini diprediksi akan terus berlanjut. Memasuki awal tahun 2026, ByteDance berencana menginvestasikan kembali dana sebesar 160 miliar yuan atau sekitar US$22,7 miliar untuk memperluas kapabilitas AI miliknya. Langkah ini menempatkan ByteDance sejajar dengan raksasa teknologi global lainnya dalam perlombaan dominasi AI.
Berdasarkan data Goldman Sachs Research, total pengeluaran AI oleh perusahaan hyperscaler secara global diperkirakan melampaui US$500 miliar pada tahun 2026. Tren ini memaksa kompetitor seperti Meta Platforms dan Google untuk terus meningkatkan investasi AI mereka, meskipun hal tersebut memberikan tekanan besar pada margin keuntungan.
“Dinamika ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan investor. Banyak pihak mempertanyakan apakah pengeluaran masif tersebut akan memberikan imbal hasil yang berarti dalam jangka Panjang,” ungkap Goldman Sachs Research, sepeti dilansir Asia Business Outlook, Rabu (22/4/2026).
Di sisi lain, pertumbuhan pesat TikTok Shop di pasar luar negeri sejalan dengan upaya Tiongkok untuk memperluas e-commerce lintas batas melalui zona percontohan yang didukung pemerintah. Ekspansi ini tidak hanya meningkatkan tekanan kompetitif bagi pemain Barat seperti Amazon, tetapi juga memicu kembali perdebatan mengenai privasi data dan persaingan usaha yang sehat di pasar global. (*AMBS)
