youngster.id - Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBoC) memulai implementasi penuh QRIS Antarnegara Indonesia–Tiongkok pada 30 April 2026. Peresmian ini menjadi tonggak sejarah baru dalam digitalisasi sistem pembayaran lintas batas yang diharapkan mampu mendorong efisiensi perdagangan, investasi, hingga sektor pariwisata kedua negara.
Peluncuran ini dilakukan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, bersama Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, di tengah perhelatan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Perry menegaskan bahwa QRIS Antarnegara adalah bukti nyata inovasi domestik Indonesia yang kini mampu dieksekusi secara global.
Implementasi QRIS Antarnegara Indonesia–Tiongkok tidak hanya memudahkan turis dan pelaku usaha dalam bertransaksi, tetapi juga memperkuat komitmen penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Dengan skema ini, transaksi antarnegara tidak lagi bergantung pada mata uang perantara, sehingga mampu meminimalkan risiko volatilitas nilai tukar.
“Kolaborasi ini diarahkan untuk menghadirkan konektivitas pembayaran yang lebih lancar, efisien, dan inklusif. QRIS Antarnegara memperkuat integrasi ekonomi keuangan digital kita menuju Indonesia 2045,” ujar Perry, dikutip Senin (4/5/2026).
Langkah ekspansi ke Tiongkok ini diambil di tengah tren positif penggunaan QRIS. Pada triwulan I-2026, volume transaksi QRIS tumbuh pesat hingga 116,43% (yoy). Secara total, transaksi pembayaran digital di Indonesia telah mencapai 14,82 miliar transaksi.
Kinerja transaksi lintas batas menunjukkan potensi besar yang tecermin dari pertumbuhan signifikan pada kedua arus transaksi. Volume transaksi inbound dari wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia mencatat lonjakan tajam hingga 2,79 juta transaksi pada triwulan I-2026, atau meningkat 222% (yoy) dengan nilai nominal mencapai Rp713,59 miliar.
Sejalan dengan itu, aktivitas transaksi outbound oleh masyarakat Indonesia di luar negeri juga menunjukkan tren positif dengan tercatat sebanyak 737.647 transaksi yang memiliki nilai total sebesar Rp249,26 miliar, menegaskan semakin luasnya pemanfaatan sistem pembayaran digital lintas negara.
Bersamaan dengan peresmian QRIS tersebut, BI juga meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI): Digdaya x Hackathon. Program ini bertujuan mencetak talenta digital yang mampu menguasai teknologi terkini, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), untuk mendukung ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, yang turut hadir menekankan pentingnya pendekatan Tech for Humanity. Menurutnya, inovasi digital seperti QRIS Antarnegara harus tetap berorientasi pada kepentingan publik dan nilai kemanusiaan, di samping keunggulan teknisnya.
Dengan dukungan 44 juta merchant (mayoritas UMKM) dan 61,7 juta pengguna di dalam negeri, perluasan QRIS ke Tiongkok diharapkan menjadi katalisator bagi UMKM Indonesia untuk go global dan mempermudah jutaan wisatawan serta pelaku bisnis dari Tiongkok dalam bertransaksi di Tanah Air. (*AMBS)


















Discussion about this post