Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home Headline Features

Peta Persaingan Startup TravelTech di Indonesia: Siapa Menguasai Kue Bisnis? Bagian 1

17 Oktober 2026
in Features, Features
Reading Time: 22 mins read
Persaingan Startup TravelTech

Peta Persaingan Startup TravelTech di Indonesia: Siapa Menguasai Kue Bisnis? Bagian 1 (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Industri perjalanan (travel) Indonesia sedang memasuki era ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian penting dari cara orang mencari, memesan, membayar, dan menikmati perjalanan. Dari tiket pesawat dan hotel hingga akomodasi alternatif, paket wisata, pengalaman lokal, dan layanan pendukung perjalanan, semuanya semakin terhubung dalam ekosistem digital.

Perubahan ini melahirkan persaingan sengit di antara startup TravelTech, baik pemain lokal maupun perusahaan global. Peta persaingan startup TravelTech di Indonesia terlalu luas untuk dibahas dalam satu tulisan. Karena itu, pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian yang saling terhubung.

Bagian 1 membahas besarnya pasar perjalanan digital Indonesia dan pertarungan di segmen Online Travel Agent (OTA). Bagian 2 mengulas persaingan di bisnis akomodasi dan pengalaman wisata. Bagian 3 melihat lapisan ekosistem lainnya, mulai dari travel infrastructure, B2B, hingga digitalisasi destinasi.

Ketiganya menjadi satu gambaran utuh tentang siapa yang sedang menguasai kue bisnis TravelTech Indonesia, bagaimana peta persaingannya terbentuk, dan ke mana arah industrinya bergerak.

Pasar Besar dan Pertarungan OTA

Dulu, merencanakan perjalanan berarti mendatangi agen perjalanan, menelepon hotel, membeli tiket di loket, atau mengandalkan rekomendasi teman.

Kini, hampir seluruh perjalanan dapat dimulai dari layar ponsel: mencari destinasi, membandingkan harga tiket dan hotel, menyusun itinerary, memesan transportasi, hingga membeli pengalaman wisata.

Perubahan inilah yang melahirkan industri TravelTech—sektor yang mempertemukan teknologi digital dengan perjalanan, pariwisata, dan hospitality.

Indonesia menjadi salah satu medan paling menarik di Asia Tenggara. Pasarnya besar, perjalanan domestiknya tinggi, wisatawan mancanegaranya terus bertambah, sementara ribuan destinasi masih dalam proses digitalisasi.

Namun, peluang besar juga berarti persaingan besar.

Traveloka dan tiket.com tumbuh sebagai dua pemain besar yang lahir dari Indonesia. Di saat yang sama, pemain global seperti Agoda, Trip.com, Booking.com, dan Klook semakin agresif.

Di luar OTA, muncul pula pemain seperti Travelio, Bobobox, Atourin, Pandooin, Passpod, NusaGo, Airpaz, dan SPUN, yang mengambil ceruk berbeda.

Karena itu, pertarungan TravelTech bukan lagi sekadar soal siapa yang menjual tiket paling murah. Pertarungan sesungguhnya adalah siapa yang mampu menguasai semakin banyak bagian dari perjalanan konsumen—dari inspirasi, booking, transportasi, akomodasi, hingga pengalaman wisata.

Sebesar Apa Kue TravelTech Indonesia?

Indonesia bukan hanya negara dengan ribuan destinasi wisata. Indonesia juga merupakan pasar perjalanan yang sangat besar—dan semakin digital.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat sekitar 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara, naik 17,55% dibandingkan 2024 dan menjadi angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Dari sisi wisatawan mancanegara, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan pada 2025, naik 10,8% dari 13,89 juta pada 2024.

Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan perjalanan sebenarnya sudah sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana semakin banyak aktivitas perjalanan tersebut berpindah ke kanal digital.

Pasar Online Travel Mencapai US$9 Miliar

Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek dan Bain & Company memperkirakan GMV sektor online travel Indonesia mencapai sekitar US$9 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 11%.

Dengan kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, angka tersebut setara kira-kira Rp144 triliun GMV. Namun, GMV bukan pendapatan startup.

GMV merupakan nilai transaksi yang mengalir melalui platform. Pendapatan platform biasanya berasal dari komisi, margin, biaya layanan, iklan, subscription, dan berbagai sumber monetisasi lainnya.

Di tingkat Asia Tenggara, online travel diproyeksikan mencapai US$51 miliar GMV pada 2025. Artinya, Indonesia merupakan salah satu pasar TravelTech terbesar di kawasan.

Pariwisata adalah Mesin Ekonomi Besar

Besarnya peluang TravelTech juga harus dilihat dari ukuran industri pariwisata secara keseluruhan.

Menurut WTTC, kontribusi total Travel & Tourism terhadap ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai Rp1.269,8 triliun, setara 5,5% PDB, sekaligus mendukung hampir 14 juta lapangan pekerjaan.

WTTC juga memperkirakan sektor tersebut dapat mencapai sekitar Rp1.897 triliun pada 2035, dengan hampir 17 juta pekerjaan.

Dengan demikian, TravelTech tidak sedang bermain di pasar kecil. Startup-startup tersebut berada di atas salah satu industri jasa terbesar di Indonesia.

TravelTech Tidak Lagi Hanya OTA

Dulu, istilah TravelTech hampir selalu identik dengan online travel agent (OTA). Sekarang cakupannya jauh lebih luas.

Ada perusahaan yang berada di depan konsumen dan menjual tiket atau hotel. Ada yang mengelola akomodasi, menawarkan pengalaman wisata, mendigitalisasi destinasi, menyediakan konektivitas, hingga membangun infrastruktur perjalanan seperti pengurusan visa.

Secara sederhana, ekosistem tersebut dapat dibaca dalam lima kelompok:

Kelompok

Startup

OTA dan travel marketplace

Traveloka, tiket.com, Trip.com, Agoda, Booking.com, NusaTrip

Accommodation-tech

OYO, RedDoorz, Travelio, Bobobox, Bobocabin

Experience dan tour-tech

Klook, Atourin, Pandooin, Tripvisto

Travel infrastructure dan connectivity

SPUN, Passpod, B2B booking, travel management dan layanan pendukung perjalanan

Destination-tech

platform dan penyedia teknologi untuk desa wisata, local guide, tour operator dan attraction provider

Di atas seluruh lapisan tersebut terdapat AI dan travel intelligence sebagai teknologi yang dapat digunakan untuk personalisasi, itinerary, rekomendasi, pricing, customer service hingga otomatisasi.

Perbedaan ini penting karena masing-masing kategori memiliki cara memenangkan pasar yang berbeda.

Traveloka terutama berfungsi sebagai platform transaksi perjalanan. Bobobox menggabungkan hospitality dengan teknologi. Atourin bergerak lebih dekat ke destinasi, pemandu dan pengalaman wisata. Sementara SPUN berada pada lapisan yang lebih dalam sebagai infrastruktur perjalanan.

Dengan demikian, semakin luas definisi TravelTech, semakin besar pula arena kompetisinya.

Siapa Pemain TravelTech Asli Indonesia?

Tidak semua perusahaan TravelTech yang beroperasi di Indonesia merupakan startup Indonesia.

Beberapa pemain yang lahir dari Indonesia antara lain:

Startup

Tahun

Fokus

tiket.com

2011

OTA

Airpaz

2011

OTA

Traveloka

2012

OTA

PegiPegi*

2012

OTA

NusaTrip

2013

OTA

Tripvisto

2014

Tour marketplace

Airy*

2015

Accommodation-tech

Travelio

2015

Accommodation-tech

Passpod

2017

Travel connectivity

Bobobox

2018

Hospitality-tech

Atourin

2019

Tourism-tech

Pandooin

2021

Travel platform/tour management

SPUN

2024

AI-powered visa infrastructure

*Sudah tutup

Daftar ini memperlihatkan perubahan karakter industri. Generasi awal banyak bergerak di booking dan accommodation. Generasi berikutnya mulai masuk ke experience, destination, connectivity, dan infrastructure. SPUN bahkan menunjukkan bahwa TravelTech kini dapat berada jauh di belakang layar—sebagai teknologi yang mendukung perjalanan, bukan sekadar menjual perjalanan.

OTA: Medan Pertempuran Terbesar

Jika berbicara tentang TravelTech Indonesia, pertarungan terbesar masih berada di sektor Online Travel Agent (OTA).

Dua nama paling penting yang lahir dari Indonesia adalah Traveloka dan tiket.com.

Traveloka: Dari Flight Search Menjadi Regional Travel Platform

Traveloka didirikan di Indonesia pada 2012. Pada awalnya, produknya bukan OTA lengkap, melainkan mesin pencari penerbangan.

Dalam perkembangannya, Traveloka berubah menjadi platform perjalanan yang menawarkan penerbangan, hotel, bus, kereta api, rental mobil, airport transfer, apartemen, resort, vila, cruise dan berbagai atraksi. Traveloka kemudian berekspansi ke berbagai negara Asia Tenggara dan Australia.

Perjalanannya menjadi contoh paling jelas dari startup Indonesia yang berkembang menjadi perusahaan TravelTech regional.

Tiket.com: Local Champion dalam Ekosistem Blibli

Tiket.com didirikan pada 2011 oleh Wenas Agusetiawan, Mikhael Gaery Undarsa, Dimas Surya Yaputra dan Natali Ardianto.

Produk awalnya adalah layanan pemesanan tiket, sebelum berkembang ke hotel, kereta, atraksi dan berbagai produk perjalanan lainnya. Pada 2017, Blibli mengakuisisi 100% Tiket.com.

Dengan demikian: Traveloka = Indonesian-born dan tetap independen. tiket.com = Indonesian-born dan kemudian menjadi bagian dari Blibli. Keduanya menjadi dua pemain penting dalam sejarah TravelTech Indonesia.

Airpaz dan NusaGo: Pemain di Luar Dua Besar

Di luar dua nama terbesar tersebut, Indonesia juga memiliki Airpaz, platform OTA yang berfokus pada penerbangan dan akomodasi.

Sementara NusaGo Digital Travelindo (NusaGo) mewakili generasi pemain yang lebih baru dengan pendekatan yang menggabungkan berbagai kebutuhan perjalanan, mulai dari akomodasi, villa dan homestay hingga rental kendaraan dan paket perjalanan.

Keduanya menunjukkan bahwa ruang kompetisi OTA masih terbuka di luar pemain terbesar.

Siapa Menguasai Kue Digital TravelTech?

Salah satu indikator untuk melihat persaingan OTA adalah traffic website. Indikator ini memang tidak sama dengan market share atau GMV, tetapi dapat memberikan gambaran mengenai popularitas dan jangkauan digital masing-masing platform.

Data Semrush untuk Juli 2026 menunjukkan Traveloka masih menjadi website Travel & Tourism dengan traffic terbesar di Indonesia, dengan sekitar 13,09 juta kunjungan per bulan.

Platform

Kunjungan Juli 2026

MoM

YoY

Traveloka

13,09 juta

+7,69%

+28,40%

Trip.com

7,75 juta

+15,43%

+172,83%

Agoda

6,42 juta

+11,27%

+122,49%

tiket.com

5,77 juta

-29,03%

-9,12%

Booking.com

3,10 juta

+5,16%

+11,59%

Klook

2,02 juta

-23,63%

+435,00%

Sumber: Semrush Traffic Analytics, Juli 2026.

Angka tersebut menghasilkan satu kesimpulan penting: Traveloka masih menjadi pemimpin digital di pasar Travel & Tourism Indonesia, tetapi kompetisi di belakangnya semakin internasional.

Trip.com tumbuh 172,83% year-on-year, sementara Agoda tumbuh 122,49%. Sebaliknya, tiket.com mengalami penurunan 9,12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, data tersebut bukan market share OTA. Traffic website tidak sama dengan GMV dan tidak mencakup seluruh transaksi yang terjadi melalui aplikasi, direct booking maupun kanal distribusi lainnya. Karena itu, traffic lebih tepat digunakan sebagai indikator digital visibility, bukan ukuran langsung pangsa pasar.

Dominasi Mobile

TravelTech juga merupakan bisnis yang sangat mobile-first.

Pada Juli 2026, sekitar 79% traffic Traveloka berasal dari perangkat mobile, sementara sejumlah pemain global memiliki proporsi mobile bahkan lebih tinggi.

Artinya, kualitas aplikasi, personalisasi, push notification, loyalty program, pembayaran digital dan integrasi berbagai layanan menjadi semakin penting.

Dengan demikian, lanskap 2026 tidak lagi cukup dibaca sebagai: Traveloka vs tiket.com. Persaingannya lebih tepat dibaca sebagai: local champion vs global platforms. (*AMBS)

Tags: AgodaAirpazAtourinboboboxbooking.comKlookNusaGoOnline Travel Agent (OTA)PandooinpariwisataPasspodSPUNStartup TraveltechTiket.comTravelioTravelokaTrip.com
Previous Post

PepsiCo Gandeng Startup Bali Waste Cycle Perluas Daur Ulang Fleksibel

Next Post

MR.D.I.Y. Indonesia, CIMB Niaga, dan Kemenperin Gelar Pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis ESG untuk IKM

Related Posts

Traveloka SEA Index
Industry

Traveloka SEA Index: Tren Wisata Religi dan Destinasi Berudara Sejuk Capai Pertumbuhan Tinggi

14 Oktober 2026
0
Jakarta Marriott Hotel Gelora Pembukaan
Industry

Marriott Hotels Membuka Properti Pertamanya di Jakarta

13 Oktober 2026
0
Traveloka 10.10 Epic Sale
Industry

Traveloka Gelar 10.10 Epic Sale di 8 Negara, Soroti Lonjakan Wisatawan ke Tiongkok dan Jepang

10 Oktober 2026
0
Load More
Next Post
MR.D.I.Y. CIMB Niaga pelatihan IKM ESG

MR.D.I.Y. Indonesia, CIMB Niaga, dan Kemenperin Gelar Pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis ESG untuk IKM

Kinerja Adira Finance Semester I 2026

Adira Finance Capai OD1 Pasca Penggabungan Mandala Finance, Perluas Jangkauan ke Indonesia Timur

Discussion about this post

Recent Updates

Kinerja Adira Finance Semester I 2026

Adira Finance Capai OD1 Pasca Penggabungan Mandala Finance, Perluas Jangkauan ke Indonesia Timur

17 Oktober 2026
MR.D.I.Y. CIMB Niaga pelatihan IKM ESG

MR.D.I.Y. Indonesia, CIMB Niaga, dan Kemenperin Gelar Pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis ESG untuk IKM

17 Oktober 2026
Persaingan Startup TravelTech

Peta Persaingan Startup TravelTech di Indonesia: Siapa Menguasai Kue Bisnis? Bagian 1

17 Oktober 2026
PepsiCo Bali Waste Cycle daur ulang

PepsiCo Gandeng Startup Bali Waste Cycle Perluas Daur Ulang Fleksibel

16 Oktober 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Kinerja Adira Finance Semester I 2026

Adira Finance Capai OD1 Pasca Penggabungan Mandala Finance, Perluas Jangkauan ke Indonesia Timur

17 Oktober 2026
MR.D.I.Y. CIMB Niaga pelatihan IKM ESG

MR.D.I.Y. Indonesia, CIMB Niaga, dan Kemenperin Gelar Pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis ESG untuk IKM

17 Oktober 2026
Persaingan Startup TravelTech

Peta Persaingan Startup TravelTech di Indonesia: Siapa Menguasai Kue Bisnis? Bagian 1

17 Oktober 2026
PepsiCo Bali Waste Cycle daur ulang

PepsiCo Gandeng Startup Bali Waste Cycle Perluas Daur Ulang Fleksibel

16 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version