youngster.id - Memasuki usia 30 tahun, Erajaya Group tidak lagi hanya mengandalkan bisnis distribusi dan ritel perangkat telekomunikasi. Perusahaan kini memperluas portofolionya ke berbagai kategori lifestyle, mulai dari olahraga, fashion, kendaraan listrik hingga makanan dan minuman.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi Erajaya untuk membaca perubahan kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Dari yang sebelumnya dikenal sebagai distributor perangkat telekomunikasi, Erajaya Group kini mengembangkan diri sebagai smart lifestyle retailer dengan tiga vertikal utama, yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, dan Erajaya Food & Nourishment.
President Director & Group CEO Erajaya Budiarto Halim mengatakan, perjalanan tiga dekade perusahaan diwarnai perubahan teknologi dan kebutuhan konsumen. Kondisi tersebut mendorong Erajaya untuk mengembangkan bisnis di luar kategori digital.
“Erajaya hari ini merupakan buah dari perjalanan dan langkah diversifikasi terukur yang kami lakukan untuk menjawab dinamika kebutuhan konsumen. Setiap vertikal, mulai dari Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, hingga Erajaya Food & Nourishment, kami kembangkan bukan sekadar untuk memperluas portofolio bisnis, tetapi karena kami melihat relevansinya dalam kehidupan sehari-hari konsumen,” kata Budiarto pada jumpa pers, Jumat (2/10/2026) di Jakarta.
Ekspansi dan Integrasi
Hingga Semester I 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.500 gerai di Indonesia, Singapura, dan Malaysia dengan dukungan lebih dari 22.000 karyawan serta 18,4 juta anggota MyEraspace. Pada periode yang sama, perusahaan menambah 173 gerai baru.
Dari total jaringan tersebut, Erajaya Digital menjadi vertikal terbesar dengan 1.920 gerai, disusul Erajaya Active Lifestyle sebanyak 256 gerai dan Erajaya Food & Nourishment sebanyak 90 gerai. Sementara itu, jaringan Erajaya di Singapura dan Malaysia mencapai 240 gerai.
Ekspansi tersebut menunjukkan perubahan arah bisnis Erajaya yang tidak lagi bertumpu pada kategori digital. Pada Semester I 2026, bisnis di luar kategori digital telah menyumbang sekitar 12% dari total penjualan Group. Sebelumnya, pada FY2025, Erajaya membukukan penjualan tahunan sebesar Rp76 triliun.
Strategi diversifikasi Erajaya kemudian diterapkan melalui kemitraan dengan berbagai brand global. Di kategori Active Lifestyle, misalnya, Erajaya menghadirkan XPENG untuk kendaraan listrik, GENTLEWOMAN di kategori fashion, serta ANTA, Under Armour, dan Wilson untuk produk olahraga.
Sementara di sektor Food & Nourishment, Erajaya memperluas portofolionya melalui CHAGEE dan mempersiapkan kehadiran I’m donut? serta Oriental Kopi di Indonesia.
Di sisi lain, ekspansi kategori bisnis juga membutuhkan sistem yang dapat menghubungkan berbagai titik interaksi dengan konsumen. Karena itu, Erajaya mengembangkan ekosistem omnichannel yang mengintegrasikan jaringan toko fisik, platform digital, dan ekosistem loyalitas pelanggan melalui Eraspace.
Vice President Director and Deputy Group CEO Erajaya Hasan Aula menambahkan, perubahan perilaku konsumen membuat batas antara belanja online dan offline semakin tidak terlihat. Konsumen dapat berpindah dari satu kanal ke kanal lainnya sesuai kebutuhannya.
“Toko fisik tetap memiliki fungsi penting karena konsumen dapat melihat dan mencoba produk, memperoleh konsultasi, serta mendapatkan layanan purnajual. Sementara itu, kanal digital dapat digunakan untuk mencari informasi, mengecek ketersediaan produk, hingga melakukan transaksi,” ungkapnya.
Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya Erajaya membangun pengalaman belanja yang lebih terhubung. Dengan jaringan ritel dan kanal digital yang saling melengkapi, perusahaan dapat memperluas akses konsumen terhadap berbagai brand sekaligus mengumpulkan pemahaman mengenai kebutuhan pelanggan.
Program Keberlanjutan
Diversifikasi bisnis juga diikuti dengan pengembangan aspek keberlanjutan. Erajaya menjalankan sejumlah program yang mencakup pelestarian lingkungan, pendidikan vokasi, serta pengelolaan limbah elektronik. Salah satunya adalah Wana Erajaya yang berfokus pada restorasi ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim melalui reforestasi, serta pengelolaan hutan berkelanjutan.
Group Chief of HC, GA, Litigation & CSR Erajaya Group Jimmy Peranginangin mengatakan, di bidang pendidikan, Program Penguatan & Kerjasama Vokasi Erajaya telah menjangkau lebih dari 3.000 siswa dan membangun kemitraan dengan 221 sekolah di 29 provinsi sejak 2019.
“Program tersebut diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan industri ritel dengan kompetensi yang dikembangkan di sekolah vokasi. Bukan hanya diarahkan untuk menyerap tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan kompetensi siswa dan guru melalui pelatihan serta pengalaman langsung di toko Erajaya,” ungkapnya.
Sementara untuk pengelolaan limbah elektronik, Erajaya menjalankan Erajaya Sustainable Gadget melalui sejumlah inisiatif seperti erafone Jaga Bumi dan Urban Republic Zero Waste. Melalui program tersebut, perusahaan menyediakan titik pengumpulan limbah elektronik di sejumlah lokasi ritel. Sejak program tersebut diluncurkan pada 2024, sebanyak 4.238 gadget rusak atau sudah tidak digunakan telah didaur ulang oleh mitra daur ulang.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post