youngster.id - Kesenjangan pembangunan antara pusat kota dan wilayah pelosok di Indonesia Timur terus menjadi tantangan nyata. Di Papua Barat Daya, banyak siswa sekolah dasar kelas 3-6 masih kesulitan membaca dan berhitung dasar. Sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT), para perajin tenun tradisional Sumba menghadapi kemiskinan akibat ketergantungan pada tengkulak dan minimnya akses pasar.
Menjawab persoalan mendesak tersebut, Maybank bersama ASEAN Foundation meluncurkan program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA): Cohort 6. Program ini mempertemukan 110 Relawan Muda dari seluruh ASEAN untuk menggerakkan perubahan langsung di komunitas lokal.
Pada tahun ini, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah bagi dua proyek sosial yang fokus pada pemulihan literasi pendidikan dan pemberdayaan ekonomi berbasis budaya.
Proyek pertama bernama “Accelero” yang diinisiasi oleh PT Lima Dua Edukasi. Proyek ini menargetkan krisis pembelajaran dasar di Sorong, Papua Barat Daya, di mana banyak siswa kelas 3 hingga 6 SD belum bisa membaca lancar dan berhitung, meskipun sudah bertahun-tahun bersekolah.
Guna mengatasi krisis literasi tersebut, proyek ini menerapkan program ekstrakurikuler berbasis komunitas menggunakan metode Teaching at the Right Level (TaRL), sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengajar sesuai dengan tingkat kemampuan nyata anak, bukan berdasarkan tingkatan kelasnya.
Melalui metode ini, proyek membidik target dampak untuk memberikan manfaat langsung bagi 500 siswa sekolah dasar serta memberdayakan 50 fasilitator lokal. Selama masa implementasi yang berjalan enam bulan, program ini menetapkan target hasil yang ambisius, yakni memastikan minimal 60 persen siswa yang terlibat mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca dan numerasi dasar mereka.
Selain fokus pada hasil akademik siswa, proyek ini juga dirancang memiliki jangkauan luas yang ramah komunitas, dengan target menjangkau hingga 1.100 penerima manfaat tidak langsung melalui aktivasi ruang baca komunitas serta program edukasi khusus bagi orang tua.
Proyek kedua adalah “Sumba Weaving Museum” oleh PT Tenun Indonesia Sejahtera yang bertempat di Desa Watuhadang, Sumba Timur, NTT. Selama ini, pendapatan para penenun lokal tergerus akibat ketergantungan pada perantara (tengkulak) serta lemahnya promosi wisata.
Proyek ini akan merombak galeri tenun setempat menjadi museum terkurasi yang mendokumentasikan seluruh proses pembuatan kain—mulai dari pewarnaan alami hingga makna filosofis motif Sumba. Selain itu, proyek ini mengembangkan paket wisata terpadu yang memadukan tur museum, demonstrasi menenun langsung, tarian tradisional, hingga kuliner lokal untuk memotong jalur tengkulak dan meningkatkan pendapatan langsung penenun.
Kolaborasi Jangka Panjang untuk Dampak Berkelanjutan
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, menjelaskan bahwa keunikan eYAA terletak pada pelibatan organisasi lokal yang benar-benar memahami kebutuhan komunitasnya. “Setiap relawan masuk sebagai mitra, bukan sekadar pengunjung, dan setiap langkah kami bangun untuk jangka panjang,” ujar Dr. Piti, Senin (6/7/2026).
Sejalan dengan hal itu, Kepala Bagian Keberlanjutan Grup Maybank, Datuk Shahril Azuar Jimin, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan ROAR30 Maybank untuk menciptakan nilai sosial di luar sektor perbankan.
“Bersama ASEAN Foundation, kami terus membangun wadah yang memberdayakan kaum muda untuk mengubah gairah menjadi tindakan dan ide menjadi hasil nyata, yang berdampak bagi masyarakat,” imbuh Datuk Shahril.
Melalui sinergi ini, para penggerak perubahan muda diharapkan mampu mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat di pelosok Indonesia.
STEVY WIDIA
