youngster.id - Citi Institute bersama bisnis Services Citi meluncurkan laporan terbaru berjudul ‘Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI)’. Laporan tersebut menyoroti pergeseran prioritas perusahaan global yang kini berfokus pada efisiensi modal kerja, likuiditas, dan visibilitas kas di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Berdasarkan laporan tersebut, konflik di Timur Tengah serta tingginya harga minyak dan produk turunannya mempertahankan Indeks Tekanan Rantai Pasok Global (GSCPI) Citi pada level tertinggi sejak periode 2021–2022. Kondisi ini mendorong 72% perusahaan global menjadikan upaya melepaskan likuiditas yang terperangkap sebagai prioritas strategis utama dalam 12 bulan ke depan, naik dari 66% pada awal tahun 2026.
Pertumbuhan Arus Pembayaran Global dan Lonjakan Sektor Teknologi
Meskipun dihadapkan pada disrupsi, arus pembayaran bisnis Citi menunjukkan pertumbuhan sebesar 40% secara tahunan (year-on-year) pada semester pertama tahun 2026. Pertumbuhan ini dipimpin oleh sektor teknologi yang melonjak 50% secara global, didorong oleh pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Wilayah Asia dan Amerika Latin mencatatkan pertumbuhan arus pembayaran sektor teknologi yang signifikan, masing-masing sebesar 60% dan 58%. Di samping peningkatan tersebut, jalur perdagangan global juga menunjukkan pergeseran nyata. Pada sektor ekspor otomotif Cina, pengiriman kendaraan dan suku cadang ke Amerika Utara mengalami penurunan tajam dari sepertiga menjadi sekitar 13% pada pertengahan 2026.
Sebaliknya, ekspor ke Afrika melonjak hingga melebihi 15%, sementara Amerika Latin mencatatkan peningkatan terbesar sebagai tujuan pasar baru. Sementara itu di sektor pertanian, Brasil dan Argentina turut memperkuat posisi Amerika Latin sebagai pemasok produk pertanian terbesar bagi Cina, dengan menyumbang sepertiga hingga hampir setengah dari total impor pertanian negara tersebut.
Global Head of Trade and Working Capital Solutions Citi Services, Adoniro Cestari, menjelaskan bahwa fokus perusahaan kini bergeser dari sekadar diversifikasi menuju efisiensi kas.
“Perusahaan telah mendiversifikasi basis pemasok untuk memperkuat operasional. Kini, tim bendahara mulai fokus pada pertanyaan: di mana kas kami tersimpan, dan seberapa cepat kas tersebut dapat dimanfaatkan?” ujar Cestari, Kamis (17/9/2026).
Tekanan Biaya Struktural dan Adopsi Teknologi Digital
Laporan Citi mencatat bahwa 68% perusahaan global menganggap kenaikan biaya input sebagai tantangan utama modal kerja, sementara 59% menyoroti dampak tingkat suku bunga yang masih tinggi. Di sisi lain, isu tarif menjadi pendorong relokasi rantai pasok bagi 46% perusahaan di Asia Pasifik dan 44% di Amerika Latin.
Guna mengatasi tantangan tersebut, adopsi teknologi digital dalam operasi perdagangan terus meningkat. Penggunaan AI dalam operasional perdagangan naik hampir tiga kali lipat dari 16% pada tahun 2024 menjadi 45% pada pertengahan 2026, sementara hampir separuh perusahaan global mulai mengevaluasi penggunaan Distributed Ledger Technology (DLT) dan blockchain.
“Arus perdagangan, investasi, dan pembayaran masih terus tumbuh melalui pasar dan koridor yang berbeda. Perusahaan beradaptasi untuk beroperasi lebih efisien di tengah ketidakpastian serta memanfaatkan likuiditas mereka secara optimal,” tutup Cestari.
Laporan ini disusun berdasarkan analisis data jaringan pembayaran Citi pada puluhan ribu klien korporasi, survei terhadap lebih dari 700 perusahaan besar dan 150 pemasok, serta analisis ekonomi dari Citi Research. (*AMBS)
