youngster.id - Fortinet merilis laporan 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang mengungkap fakta mengkhawatirkan di Tanah Air. Sebanyak 92% organisasi di Indonesia mengaku telah mengalami satu atau lebih insiden kebocoran keamanan siber dalam 12 bulan terakhir. Di mana 64% di antaranya bahkan menderita lima kali insiden atau lebih akibat minimnya tenaga ahli yang kompeten.
Krisis kelangkaan talenta ini berdampak fatal pada finansial perusahaan. Mayoritas organisasi di Indonesia (62%) menyatakan biaya pemulihan akibat serangan siber tersebut menembus angka US$1 juta (sekitar Rp16 miliar) per insiden, dengan durasi perbaikan sistem yang memakan waktu hingga lebih dari satu bulan.
Para pemimpin TI di Indonesia (76%) sepakat bahwa minimnya keterampilan serta keterbatasan staf keamanan siber yang terlatih menjadi celah utama masuknya serangan. Risiko ini kian nyata setelah 75% responden mengakui absennya tenaga ahli senior langsung memicu risiko keamanan siber yang lebih masif pada operasional bisnis mereka.
“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan risiko strategis bagi bisnis. Masih diperlukan investasi yang lebih besar untuk mengatasi berbagai tantangan utama, seperti munculnya risiko AI dan kekurangan talenta keamanan siber yang terus berlangsung,” ujar Carl Windsor, CISO, Fortinet, Kamis (16/7/2026).
Risiko Serangan AI dan Kesenjangan Kompetensi Baru
Selain masalah kuantitas personel, adopsi Artificial Intelligence (AI) oleh karyawan turut membawa ancaman baru yang belum sepenuhnya dipahami oleh jajaran eksekutif perusahaan. Hampir tiga perempat responden (73%) memproyeksikan adanya kebutuhan mendesak untuk posisi baru yang berfokus pada pengawasan serta tata kelola AI dalam tiga tahun ke depan.
Tantangan rekrutmen pun kini bergeser, dengan 82% perusahaan menyatakan sangat sulit menemukan kandidat keamanan siber yang memiliki pengalaman khusus di bidang AI.
Guna merespons ancaman cyber-AI ini, 97% organisasi di Indonesia berencana meningkatkan investasi pada pelatihan dan sertifikasi keamanan siber khusus AI dalam 12 bulan mendatang. Perusahaan juga mulai mengadopsi solusi proteksi berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi pendeteksian serangan secara real-time.
STEVY WIDIA
