youngster.id - Di tengah tantangan perubahan iklim dan pesatnya transformasi digital, peran generasi muda dinilai semakin penting dalam mendorong lahirnya inovasi bisnis yang tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.
Hal tersebut menjadi benang merah dalam SDG Innovation Accelerator for Young Professionals (SDGI) 2026: Closing Ceremony & Solutions Showcase yang digelar UN Global Compact Network Indonesia (IGCN). Presiden IGCN, YW Junardy, mengatakan program tersebut bukan sekadar seremoni penutupan, melainkan ajang untuk menunjukkan solusi nyata yang lahir dari para profesional muda Indonesia.
“Ini adalah perayaan perjalanan profesional muda dalam mengembangkan inovasi yang berdampak. Dari 18 proposal yang dikembangkan, satu tim akan membawa nama Indonesia ke ajang UN Global Compact Leaders Summit di New York,” ungkapnya dikutip Selasa (28/7/2026) di Jakarta.
Program pengembangan yang berlangsung selama enam bulan ini membekali talenta muda dari berbagai perusahaan untuk menciptakan solusi bisnis yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Pada ajang tahun ini, sembilan tim memperoleh penghargaan sebagai inovasi dengan potensi dampak terbaik. Dari seluruh peserta, PT Petrokimia Gresik Solusi Agroindustri terpilih sebagai pemenang utama dan akan mewakili Indonesia pada UN Global Compact Leaders Summit di New York pada 22–23 September 2026.
Tim tersebut mengembangkan inovasi “GladiAgro: Next-Gen Soil Revival”, sebuah solusi yang berfokus pada pemulihan kesehatan tanah melalui pemanfaatan pupuk hayati dan mikroba unggul. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lahan pertanian sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Junardy menambahkan, Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 62% target Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, dinamika geopolitik global serta perkembangan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI) membuat dunia usaha perlu terus beradaptasi dan menghadirkan inovasi yang berkelanjutan.
Sementara Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia Gita Sabharwal menilai, inovasi yang dihasilkan para peserta memiliki potensi menciptakan dampak pada tiga aspek sekaligus, yakni keberlanjutan lingkungan, inklusi sosial, dan pertumbuhan ekonomi.
“Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, akademisi, dan organisasi internasional menjadi faktor penting agar berbagai ide yang lahir tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diwujudkan menjadi solusi jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Nunung Nuryartono menegaskan, riset dan inovasi merupakan fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Ia mengatakan BRIN terus mendorong pemanfaatan berbagai teknologi, termasuk teknologi nuklir, untuk mendukung mitigasi bencana, ketahanan pangan, serta pembangunan berkelanjutan.
Pandangan serupa disampaikan Leonardo A. A. Teguh Sambodo dari Bappenas. Menurutnya, nilai utama dari program SDGI bukan hanya pada solusi yang dihasilkan, tetapi juga proses pembentukan karakter para peserta sebagai problem solver yang mampu melihat tantangan bisnis dari perspektif keberlanjutan.
Ia berharap dunia usaha terus memberikan ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan gagasan baru, khususnya dalam menjawab isu ekonomi sirkular, efisiensi sumber daya, dan pengurangan emisi.
Keikutsertaan Petrokimia Gresik dalam forum global tersebut diharapkan menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari profesional muda Indonesia mampu memberikan kontribusi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di tingkat internasional.
STEVY WIDIA















Discussion about this post