youngster.id - Indonesia meloncat ke peringkat ketiga sebagai lokasi yang paling banyak disasar serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) secara global pada kuartal ketiga (Q3) 2026. Temuan ini diungkapkan dalam laporan ancaman DDoS terbaru yang dirilis oleh penyedia infrastruktur siber global, Cloudflare.
Berdasarkan data Cloudflare, Indonesia menyumbang 2,93% dari total serangan yang terdeteksi dan dimitigasi di seluruh jaringannya, tepat di belakang Amerika Serikat dan China. Sementara itu, Vietnam tetap berada di jajaran 10 besar dunia dengan menempati posisi kesembilan.
Metodologi Cloudflare mengelompokkan data negara target berdasarkan lokasi penagihan (billing country) pelanggan, menggabungkan indikator serangan pada lapisan aplikasi (application-layer) dan jaringan (network-layer).
Sepanjang periode Juli hingga September 2026, Cloudflare mencatat telah memitigasi secara otomatis sebanyak 18,2 juta serangan DDoS tingkat jaringan—setara dengan rata-rata 8,226 serangan setiap jamnya—serta merekam 14,4 triliun permintaan HTTP DDoS.
Dominasi Serangan DDoS-for-Hire dan Pergeseran Taktik Peretas
Laporan tersebut menyoroti lonjakan serangan tingkat jaringan hingga 208% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Karakteristik serangan ini didominasi oleh durasi singkat dan frekuensi tinggi, di mana hampir 96% serangan berakhir dalam waktu kurang dari 10 menit dan sebanyak 98% serangan berada di bawah batas kapasitas 1 gigabit per second (Gbps).
Tren serangan berdurasi singkat dengan kapasitas terbatas ini mengindikasikan tingginya pemanfaatan layanan DDoS-for-hire atau booter services, yakni praktik di mana pelaku membayar platform otomatis untuk melumpuhkan server target.
Meskipun volume serangan di bawah 1 Gbps terkesan kecil, Cloudflare menegaskan bahwa serangan semacam ini tetap berpotensi melumpuhkan situs web atau server yang memiliki kapasitas terbatas, terutama jika dihantam secara berulang.
Di sisi lain, serangan berukuran raksasa yang melebihi 1 terabit per second (Tbps) justru merosot 69% dari 805 serangan pada Q2 menjadi 251 serangan pada Q3. Penurunan ini bertepatan dengan tindakan penegakan hukum internasional terhadap empat jaringan botnet Internet-of-Things (IoT) besar, yakni Aisuru, KimWolf, JackSkid, dan Mossad.
Laporan ini juga mencatat pergeseran cepat pada metode serangan. Serangan berulang Connectionless Lightweight Directory Access Protocol (CLDAP) anjlok hingga 99,5%, sementara serangan DNS amplification melonjak 215% dan UDP floods meningkat hingga menyumbang 31,31% dari total serangan jaringan. Pergeseran cepat ini menunjukkan fleksibilitas peretas dalam mengadopsi alat baru saat metode lama berhasil dibendung. Dari sektor industri, media dan penerbitan masih menjadi target utama, disusul oleh bisnis internet dan layanan konsumen. (*AMBS)
















Discussion about this post