Minat Kreator Muda Garap Cerita Anak dan Keluarga Terus Meningkat

Diskusi Mendorong Masa Depan Cerita yang Ramah untuk Ditonton Bersama di Ruang Keluarga yang digelar Netflix, Sabtu (11/7/2026) di Jakarta. (Foto: istimewa/netflix)

youngster.id - Industri film anak dan keluarga di Indonesia dinilai tengah memasuki momentum baru. Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) melihat semakin banyak kreator muda yang tertarik mengembangkan cerita untuk penonton anak dan keluarga, seiring meningkatnya perhatian terhadap genre tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum APROFI, Edwin Nazir, mengatakan cerita anak dan keluarga selalu memiliki tempat di industri perfilman Indonesia. Kini, menurutnya, antusiasme generasi kreator baru untuk menggarap genre tersebut semakin terlihat.

“Cerita anak dan keluarga selalu memiliki arti penting sejak dulu di Indonesia, dan saat ini kami melihat adanya momentum baru dari para kreator yang ingin menghadirkan cerita bagi penonton usia muda,” kata Edwin dalam diskusi Mendorong Masa Depan Cerita yang Ramah untuk Ditonton Bersama di Ruang Keluarga yang digelar dalam rangkaian Netflix Family Festival 2026: World of Wonder, Sabtu (11/7/2026).

Momentum tersebut juga terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap film dan serial anak, baik di Indonesia maupun dunia. Kesuksesan film animasi Indonesia Jumbo serta fenomena global KPop Demon Hunters menjadi contoh bagaimana cerita ramah keluarga mampu menarik penonton lintas generasi.

Meski demikian, Edwin menilai membangun ekosistem cerita anak yang berkelanjutan tidak bisa dilakukan melalui satu program saja. “Dibutuhkan kolaborasi jangka panjang, mulai dari pendidikan, peningkatan keterampilan, produksi, distribusi, hingga pengarsipan agar semakin banyak kreator berbakat dan karya berkualitas yang lahir,” ujarnya.

Sementara itu, Sutradara sekaligus penulis Jumbo, Ryan Adriandhy, menilai membuat cerita untuk anak bukan berarti menyederhanakan cerita. Menurutnya, anak-anak merupakan penonton yang mampu memahami emosi yang kompleks.

“Cerita anak dan keluarga terbaik tidak tercipta dengan bertanya bagaimana membuat cerita lebih sederhana untuk anak-anak. Cerita tersebut justru menjadi hidup ketika kita menggambarkan emosi secara jujur,” kata Ryan.

Ia menambahkan, anak-anak memiliki ketakutan, harapan, dan impian yang sama seperti orang dewasa. Karena itu, cerita yang mengangkat emosi secara autentik justru lebih mudah diterima oleh seluruh anggota keluarga.

Pandangan serupa disampaikan penulis dan sutradara Gina S. Noer. Menurutnya, cerita keluarga bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media untuk mewariskan nilai, perspektif, dan budaya kepada generasi berikutnya.

“Ketika anak-anak dan orang tua melihat kehidupan mereka sendiri tercermin di layar, sebuah cerita dapat menjadi awal dari percakapan yang bermakna,” ujarnya perempuan yang berkolaborasi dengan Netflix melalui film Aku Sebelum Aku

Sementara itu, penulis dan produser animasi Andrew Guerdat, yang pernah menggarap serial seperti PAW Patrol dan Astro Boy, mengatakan cerita yang mampu diterima penonton global justru lahir dari kisah yang autentik dan berakar pada budaya lokal.

“Anak-anak mungkin tumbuh dalam budaya yang berbeda, tetapi mereka berbagi emosi universal yang sama. Ketika kreator menghadirkan cerita yang jujur dan dekat dengan lingkungan mereka sendiri, cerita tersebut dapat menyentuh keluarga di seluruh dunia,” katanya.

Untuk mendukung lahirnya lebih banyak karya anak dan keluarga, Netflix bersama APROFI dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) menggelar masterclass Merajut Cerita dan Visual untuk Film dan Serial Anak yang diikuti 60 kreator Indonesia. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Cerita Anak Nusantara, yang bertujuan meningkatkan kemampuan kreator dalam mengembangkan cerita anak dan keluarga yang berkualitas.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version