youngster.id - Platform observability dan keamanan siber global, Datadog, Inc., menunjuk Karina Gunawan sebagai Regional Vice President – Enterprise untuk wilayah Indonesia dan GMS. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat komitmen perusahaan di tengah masifnya momentum adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara.
Area Vice President – Enterprise untuk ASEAN & SAARC di Datadog, Ali Azarian, menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar teknologi paling dinamis dan kompetitif.
“Karina telah memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan Datadog di kawasan ini. Penunjukan ini mencerminkan keyakinan penuh kami terhadap Karina, sekaligus komitmen kami menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama,” ujar Ali, Jumat (5/6/2026).
Dalam peran barunya, Karina akan fokus pada tiga pilar utama: membantu perusahaan Indonesia menjaga visibilitas di lingkungan cloud yang kompleks, mengawal transisi eksperimen AI menuju produksi yang andal, serta mengintegrasikan kontrol keamanan siber di lapisan aplikasi. Tantangan ini krusial mengingat Indonesia mencatat sekitar 3.300 upaya serangan siber per minggu, tertinggi di Asia Tenggara.
Urgensi observability diperkuat oleh laporan “State of AI Engineering 2026” dari Datadog, yang menunjukkan hampir 70% perusahaan global kini mengoperasikan tiga model AI atau lebih secara bersamaan.
Di Indonesia, sejumlah perusahaan besar di sektor telekomunikasi, e-commerce, dan finansial telah mengandalkan Datadog untuk menavigasi kompleksitas tersebut, di antaranya: Telkomsel (menggunakan Datadog untuk mengelola kompleksitas infrastruktur cloud skala nasional), Blibli (memaksimalkan optimalisasi sistem dan sinergi tim teknis bagi jutaan konsumen), Vidio (menjaga keandalan platform streaming, bahkan saat diakses oleh 8 juta penonton secara bersamaan), Flip.id (mendemokratisasi akses data telemetri agar para engineer dapat mengembangkan sistem dengan aman). Termasuk KUDO (untuk single dashboard dari monitoring-monitoring yang sudah ada)
“AI mempercepat segala aspek, namun akselerasi tanpa kendali memadai hanya akan menjadi risiko dalam skala besar. Di sinilah pentingnya observability untuk memahami nilai nyata dari aplikasi AI,” pungkas Karina.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post