Dukung Target PSN 100 GW, Rumah Energi Perkuat Peran Koperasi dalam Proyek PLTS Nasional

Koperasi PLTS Rumah Energi

Dukung Target PSN 100 GW, Rumah Energi Perkuat Peran Koperasi dalam Proyek PLTS Nasional (Foto: Istimewa)

youngster.id - Yayasan Rumah Energi (YRE) mempertegas komitmennya dalam mempercepat transisi energi di Indonesia dengan mendorong peran strategis koperasi. Melalui forum Green Cooperative Solar Initiative Dialogue, Rumah Energi berupaya menjembatani kebijakan nasional dengan praktik lapangan guna mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW.

Sejak 2021, program Koperasi Hijau milik Rumah Energi telah menjangkau lebih dari 150 koperasi di seluruh Indonesia. Inisiatif ini dirancang agar transisi energi nasional tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga inklusif dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku ekonomi produktif di tingkat akar rumput.

Direktur Eksekutif Rumah Energi, Sumanda Tondang, mengungkapkan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk mengidentifikasi hambatan (bottleneck) implementasi energi terbarukan. Menurutnya, potensi koperasi sebagai penggerak ekonomi komunitas sangat besar, namun masih terkendala aspek model bisnis dan akses pendanaan.

“Koperasi memiliki potensi besar sebagai penggerak transisi energi di tingkat komunitas. Perannya perlu diperkuat melalui kebijakan yang tepat, model bisnis yang feasible, serta dukungan pembiayaan yang memadai,” ujar Sumanda, dikutip Jum’at (24/4/2026).

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah. Roysepta Abimanyu, Tenaga Ahli Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi RI, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan pengembangan 102 PLTS dalam dua tahun ke depan. Fokus utama program ini adalah wilayah-wilayah yang belum terjangkau akses listrik secara optimal.

“Kementerian Koperasi mendorong pengembangan PLTS untuk mengurangi ketimpangan akses energi. Kami ingin memastikan masyarakat bukan hanya menjadi konsumen, melainkan pelaku ekonomi produktif dalam ekosistem energi baru terbarukan,” tutur Roysepta.

Berdasarkan hasil asesmen melalui proyek TERBIT (Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui Model Energi Terbarukan Berbasis Komunitas), ditemukan adanya celah antara regulasi nasional dengan kesiapan teknis di lapangan. Menanggapi hal ini, Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian EBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menekankan pentingnya keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) energi di masyarakat yang dikelola oleh koperasi.

Forum ini merumuskan dua fokus utama untuk masa depan. Pertama, Penguatan Tata Kelola: Membuka ruang regulasi agar koperasi dapat terlibat aktif dalam ekosistem energi nasional. Kedua, Model Bisnis Bankable: Mengembangkan skema PLTS berbasis koperasi yang dapat didanai (scalable) melalui skema pembiayaan inovatif seperti blended finance.

Rumah Energi berharap dialog ini segera berlanjut pada pengembangan proyek percontohan (pilot project) yang dapat direplikasi secara luas di berbagai wilayah Indonesia. Dengan pendekatan kolaboratif ini, transisi energi diharapkan dapat berjalan secara adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

.

HENNI S.

 

Exit mobile version