youngster.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI), industri kreatif digital, hingga ekonomi berbasis teknologi terus mengubah kebutuhan dunia kerja. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan teknis saja dinilai tidak lagi cukup. Generasi muda juga perlu memahami cara kerja industri, mampu beradaptasi dengan teknologi baru, serta memiliki wawasan global agar dapat bersaing di pasar kerja internasional.
Melihat kebutuhan tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjalin kerja sama dengan HGI Research Centre di Shanghai, Tiongkok. Kerjasama ini bertujuan memperkuat pengembangan talenta digital melalui integrasi pendidikan dan industri, pengembangan keterampilan digital, hingga kolaborasi internasional.
Wakil Presiden HGI Research Centre, Wang Chen, mengatakan pendidikan vokasi di era digital perlu bergerak melampaui pembelajaran teknis semata. Menurutnya, siswa harus memahami bagaimana industri bekerja dan bagaimana teknologi seperti AI digunakan untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan bisnis.
“Pendidikan vokasi bukan sekadar mengajarkan penggunaan alat, tetapi membantu siswa memahami cara industri bekerja dan proyek dijalankan. Di era AI, perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang bisa menggunakan AI, tetapi yang mampu memanfaatkannya secara efektif. Karena itu, HGI Research Centre berkomitmen membawa proyek, proses, dan standar industri ke dalam ruang kelas di Indonesia,” ucap Wang Chen dikutip Jumat (19/6/2026).
Kolaborasi yang ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) dalam rangkaian kunjungan resmi delegasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur ke Shanghai pada 8–12 Juni 2026. Delegasi yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengikuti berbagai diskusi, kunjungan lapangan, dan pertukaran pengetahuan bersama HGI Research Centre serta sejumlah institusi pendidikan vokasi di Shanghai.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan mengeksplorasi berbagai program yang berfokus pada pengembangan talenta digital, penguatan hubungan sekolah dengan dunia usaha, penyusunan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, hingga program pertukaran dan kolaborasi internasional.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menilai sektor digital akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa depan. Karena itu, pendidikan perlu beradaptasi agar mampu menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Melalui kolaborasi dengan HGI Research Center dan sejumlah kampus vokasi terkemuka di Shanghai, Jawa Timur berharap dapat mencetak talenta muda yang tidak hanya menguasai keterampilan digital mutakhir, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi serta berwawasan internasional demi mendukung peningkatan skala industri regional,” katanya.
Salah satu topik yang menjadi fokus pembahasan dalam kerja sama ini adalah konsep “Chinese + Class Skill”, yaitu model pembelajaran yang menggabungkan penguasaan bahasa Mandarin dengan keterampilan profesional berbasis kebutuhan industri.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa tidak dilakukan secara terpisah, melainkan terintegrasi dengan praktik di bidang seperti desain gim, media digital, produksi konten, dan industri kreatif lainnya. Dengan cara ini, siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi lintas budaya yang semakin dibutuhkan di dunia kerja global.
Selain melakukan diskusi strategis, delegasi Jawa Timur juga mengunjungi sejumlah institusi pendidikan vokasi di Shanghai, seperti Shanghai Qunxing Vocational and Technical School, Shanghai Caoyang Vocational and Technical School, serta Shanghai Arts and Crafts Vocational College.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi melihat langsung penerapan sistem pendidikan yang mengintegrasikan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Berbagai bidang yang menjadi perhatian antara lain animasi, pengembangan gim, media digital, kecerdasan buatan, hingga pemanfaatan teknologi untuk pelestarian budaya.
Deputy Director of the Education Bureau of Putuo District Shanghai, Wang Zhenfei, menjelaskan bahwa wilayah Putuo saat ini menjadi salah satu kawasan percontohan pendidikan AI di Shanghai. Sejak 2020, kecerdasan buatan telah mulai diterapkan dalam sistem pendidikan di wilayah tersebut.
“Pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus tetap menjaga keterkaitannya dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi dan pendidikan AI menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan,” ujarnya.
Melalui kerja sama ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan HGI Research Centre berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang memiliki akses terhadap keterampilan digital, pengalaman belajar berbasis industri, serta peluang kolaborasi internasional.
STEVY WIDIA
