youngster.id - Di pasar finansial, bulan September kerap menjadi momen yang membuat investor dan trader lebih waspada, bahkan muncul istilah September Effect. Istilah ini muncul dari kecenderungan historis ketika pasar saham, khususnya di Amerika Serikat, mencatat kinerja lebih lemah dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Fenomena tersebut juga sering dikaitkan dengan pasar kripto. Data historis menunjukkan September menjadi salah satu periode dengan rata-rata imbal hasil terendah bagi sejumlah aset, termasuk indeks S&P 500 dan Bitcoin. Namun, pola historis tersebut tidak berarti pasar saham maupun kripto pasti mengalami penurunan setiap September.
Lantas, apakah September Effect benar-benar merupakan pola pasar yang perlu diperhatikan atau hanya mitos yang terus dipercaya investor? Dan jika volatilitas meningkat, apa yang perlu dilakukan investor?
“Penyebab utama terjadinya fenomena September Effect adalah perilaku dan kebiasaan investor, bukan kalender ataupun pergantian bulan,” ungkap FX Sutjiharto, MM, pakar trading dan pendiri FXSV Academy, dikutip Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang turut mendorong munculnya fenomena tersebut. Salah satunya adalah aktivitas investor setelah berakhirnya periode liburan musim panas. Setelah kembali aktif, fund manager dan investor institusi biasanya melakukan evaluasi strategi sekaligus menata ulang portofolio.
Proses tersebut dapat diikuti dengan aksi menjual atau melepas sejumlah aset. Ketika dilakukan secara bersamaan oleh banyak pelaku pasar, aktivitas tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga.
Faktor lainnya adalah tax-loss selling. Sejumlah trader di Amerika Serikat dapat menjual aset yang sedang mengalami kerugian menjelang penutupan tahun fiskal. Kerugian tersebut kemudian direalisasikan untuk membantu mengoptimalkan kewajiban pajak.
Selain aktivitas transaksi, psikologi investor juga memiliki peran. Reputasi September sebagai bulan dengan kinerja pasar yang cenderung lemah dapat membuat investor lebih khawatir terhadap potensi penurunan harga.
Ketika banyak pelaku pasar sudah memperkirakan harga akan turun, sebagian dari mereka dapat memilih menjual aset lebih awal. Jika dilakukan secara kolektif, aksi tersebut justru dapat meningkatkan tekanan jual dan membuat penurunan benar-benar terjadi. Kondisi ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy.
Data historis memang menunjukkan adanya kecenderungan tersebut. Berdasarkan laporan CFRA dan data historis indeks S&P 500 sejak Perang Dunia II, September merupakan bulan dengan rata-rata imbal hasil terendah, yaitu sekitar -0,78%.
Menurut Sutjiharto, pergerakan pasar saham Amerika Serikat juga penting diperhatikan karena sentimen dari Wall Street dapat memberikan pengaruh terhadap pasar saham global.
Di pasar kripto, data historis CoinGlass sejak 2013 menunjukkan September menjadi bulan terlemah bagi Bitcoin dengan rata-rata imbal hasil sekitar -3,5%. Bitcoin juga tercatat mengakhiri September di zona merah sebanyak delapan kali sepanjang periode 2013-2025.
“Koreksi Bitcoin juga berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar altcoin. Ketika aset kripto terbesar mengalami penurunan, sentimen negatif dapat menyebar ke aset lainnya sehingga volatilitas pasar semakin tinggi,” ujarnya.
Namun, dia menegaskan, September Effect memang memiliki dasar dari data historis, tetapi bukan berarti pasar pasti turun setiap September. Rata-rata kinerja negatif pada bulan tersebut menunjukkan kecenderungan, bukan kepastian. Pergerakan pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan bank sentral, kinerja perusahaan, sentimen investor, hingga peristiwa geopolitik.
“Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kalender. September Effect dapat menjadi salah satu informasi dalam membaca kondisi pasar, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk membeli atau menjual aset,” pungkasnya.
Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, kecepatan eksekusi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan trader. XM, salah satu platform trading derivatif, menyebut 99,7% order pada platformnya dieksekusi dalam waktu kurang dari satu detik tanpa requote maupun penolakan.
Meski demikian, kecepatan eksekusi tidak menghilangkan risiko pasar. Kemampuan mengambil keputusan secara cepat tetap perlu diikuti analisis dan manajemen risiko yang sesuai.
Koreksi pasar juga tidak selalu berarti tren penurunan akan berlangsung panjang. Ketika tekanan jual mulai mereda dan sentimen membaik, pasar berpotensi memasuki fase pemulihan. Namun, peluang setelah koreksi tetap perlu dilihat secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi dan prospek masing-masing aset.
Pada akhirnya, September Effect lebih tepat dipandang sebagai pola historis yang perlu dipahami, bukan sinyal pasti bahwa pasar saham dan kripto akan mengalami penurunan. Bagi investor, memahami faktor yang memengaruhi volatilitas dapat membantu mengambil keputusan secara lebih rasional dan tidak terburu-buru mengikuti sentimen pasar.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post